Catatan: The 52nd IFLA World Congress


Hampir sebulan yang lalu kegiatan tahunan kongres dunia The Federation of Landscape Architects (IFLA) ke-52 berlangsung di dua kota di Rusia, diorganisir oleh ALAROS (the Association of Landscape Architects of Russia). Program executive committee meeting dan world council meeting yang dihadiri oleh delegasi negara anggota IFLA dilaksanakan di ibu kota Russia –Moscow- dari tanggal 7-9 Juni, sementara conference diselenggarakan di kota terbesar kedua kedua di negara ini, yaitu St Petersburg, dari tanggal 10-12 Juni 2015. Saya sendiri mendaftar untuk berpartisipasi pada conference di St Petersburg setelah abstrak saya dinyatakan lolos oleh scientific committee untuk ditulis dalam full peer reviewed paper dan dipresentasikan secara oral bersama sekitar 98 presenter lainnya (Paper saya dapat diunduh di IFLA 2015 Paper VD Damayanti – T Spek dan proseeding dapat diakses di SINI).

Acara opening ceremony kongres bisa dibilang spektakular. Tak jauh dari venue kongres -State Academic Capella, sebuah panggung konser didirikan di Plaza Square, di depan gerbang triumphal arc dan menghadap ke momumen Alexander Column. Plaza Square dari dahulu hingga sekarang merupakan alun-alun kota yang berada di antara The Winter Palace –pusat kekaisaran Tsar Russia yang saat ini lebih dikenal sebagai The Hermitage Museum- dan Building of the General Staff. Kemegahan opening ceremony dan kongres ini didukung dengan alun-alun yang disulap menjadi taman bergaya Renaissance dengan menciptakan parterre dari karpet rumput dan bunga di sekitar monumen, dilengkapi dengan pohon dalam pot, dan tiang-tiang bendera dari sekitar 70-an negara anggota IFLA. Acara opening ceremony yang memakan waktu sekitar satu jam ini diisi dengan pagelaran theatrical yang secara garis besar mewakili lima benua di dunia.

IFLA03

Panggung di depan the Building of General Staff

Panggung untuk opening ceremony kongres

Panggung untuk opening ceremony kongres

Taman instan bergaya Renaissance di antara The Hermitage Museum dan General Staff Building

Taman instan bergaya Renaissance di sekitar monumen Alexander Column yang ada di antara The Hermitage Museum (gedung pada latar belakang) dan General Staff Building.

Dengan tema kongres tahun ini “History of Future”, pusat kota St Petersburg yang secara semantik sarat simbol kebesaran kekaisaran Russia dan para penguasa sesudahnya serta menyimpan banyak peristiwa kesejarahan ini seolah-olah mewakili isu tentang bagaimana (lanskap kota ber)sejarah akan dikembangkan untuk masa mendatang. Kota yang dibelah oleh Sungai Neva ini di pusatnya penuh dengan bangunan-bangunan bersejarah bergaya baroque dan neo-classical, ditambah lagi ruang terbuka dan taman-taman bersejarah yang menjadi elemen pembentuk kota. Tak heran di ruang-ruang pameran, banyak poster yang bertemakan berbagai proyek konservasi dan desain lanskap di St Petersburg oleh pemerintah setempat. Beberapa pembicara kunci dan penyaji pada seminar pun diantaranya membahas topik terkait lanskap di St Petersburg.

Ruang utama konferensi

Ruang utama konferensi

Salah satu ruang poster

Salah satu ruang poster

Salah satu keynote speaker yang menurut saya menarik yaitu Larisa Kanunnikova yang mempresentasikan “Landscape Scenario of St Petersburg” di hari pertama konferensi. Larisa Kanunnikova –yang selain sebagai akademisi juga menjadi arsitek lanskap utama di pemerintahan kota St Petersburg- menyatakan bahwa salah satu aspek dari skenario tersebut yaitu dalam bentuk rancangan skema warna (colouring the city) melalui elemen lanskap keras (paving, street furniture, sculpture, water feature, seasonal objects, festive decoration) dan lunak (pohon/tata hijau, dekorasi bunga) serta pencahayaan di kota. Pendekatan tersebut tak hanya untuk menciptakan lingkungan kota yang dinamis, namun juga mendukung kegiatan konservasi pusat kota St Petersburg yang telah ditetapkan sebagai world heritage site oleh UNESCO.

Di hari kedua, keynote speaker yang menarik bagi saya yaitu Kongjian Yu, seorang akademisi dan praktisi arsitek lanskap kenamaan dari China (pendiri Turenscape) yang sangat produktif baik di bidang riset maupun desain. Dengan tema presentasi “Creating Deep Forms in Urban Nature”, Kongjian Yu berbagi gagasannya tentang pendekatan untuk mengolah elemen alami lanskap di perkotaan dari sudut pandang para petani (the peasant’s approach): cut and fill, irrigate and fertilize, frame and access, grow and harvest. Sebagai contoh aplikasi pendekatan tersebut, Kongjian Yu mempresentasikan beberapa proyek desain lanskap yang telah sukses diimplementasikan seperti Qunli Stormwater Park (foto-fotonya sering beredar di FB :) ), Qinhuangdao Red Ribbon Park dan Shenyang Architectural University Campus (info lebih lengkap tentang ketiga project tsb dapat dilihat di SINI).

Di hari terakhir, acara yang saya nantikan adalah pengumuman pemenang kompetisi desain mahasiswa. Dengan didominasi entries dari mahasiswa China (204 dari total 272 entries!), mereka memenangkan posisi ketiga (Beijing Forestry University, judul project “Growing Dam”) dan runner up (Tongji University, judul project “Carbon Footprint Park in Disused Quarry Site”). Sementara itu posisi teratas dimenangkan oleh tim mahasiswa dari University of Valladolid-Spanyol dengan entry berjudul “Scales of Time”. Di hari terakhir sekaligus penutupan ini, The IFLA Sir Geoffrey Jellicoe Award, sebagai penghargaan tertinggi bagi arsitek lanskap, dianugerahkan kepada Mario Schjetnan, akademisi dan praktisi dari Mexico (selengkapnya dapat dibaca di SINI). Pada penutupan ini juga diumumkan kongres dunia berikutnya yang akan diadakan di Turin-Italy, yang bertemakan “Tasting the Landscape” (Wow…yummy).

Mario Schjetnan

Bersama Mario Schjetnan

The party is over :)

The party is over :) – pembongkaran taman sehari setelah penutupan kongres

Terlepas dari masalah bahasa (terbatasnya jumlah panitia yang berbahasa Inggris aktif) dan sedikit kesimpangsiuran yang terjadi di hari pertama konferensi, kesimpulan saya yang pertama tentang kongres ini: impresif! Kesan ini bukan hanya dari lanskap kota St Petersburg yang impresif karena karakternya sangat kuat menunjukkan besarnya pengaruh penguasa di masa lalu yang dimanifestasikan melalui struktur lanskap kota dan elemen pembentuknya. Namun juga dari penyelenggaraan kongres: opening ceremony yang spektakular, venue di salah satu concert hall yang berumur 3 abad-tepat di pusat kota (dan pusat kekaisaran), dan digunakannya Bahasa Russia oleh para keynote speaker dan presenter dari Russia (panitia menyediakan portable headset bagi peserta untuk mendengarkan interpreter berbahasa Inggris). Kesimpulan yang kedua, agak klise tapi benar adanya: saya mendapatkan banyak pengalaman, up-date wawasan dan isu terkait arsitektur lanskap yang diperoleh dari para keynote speaker dan presenter, dan teman baru tentunya. Dan mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan untuk datang ke kongres IFLA di tahun-tahun mendatang (Amin).

St Petersburg skyline: Mix of old and new

LINKS

IFLA https://iflaonline.com

The 52nd IFLA World Congress https://ifla2015.com/en

Proceedings of The 52nd IFLA World Congress https://www.scribd.com/doc/270375967/52nd-IFLA-Word-Congress-2015-Proceedings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *