Perjalanan ke Maastricht dan seminar industrial heritage

FacebookTwitterGoogle+LinkedInShare

Tanggal 11 Oktober yang lalu saya berkesempatan mengikuti seminar di Maastricht bertema “Cultural dynamics of former mining regions: perspectives for the 2020s” yang diselenggarakan di Maastricht Centre for Arts and Culture Conservation and Heritage, Maastricht University. Maastricht adalah ibukota Propinsi Limburg yang teletak di ujung selatan Belanda, sementara Groningen, ibukota Propinsi Groningen, ada di ujung utara. Perlu waktu 4 jam untuk menuju Maastricht dengan kereta antar kota. Tiba di Amsterdam, saya berangkat dengan Ibu Hasti Tarekat, seorang penggiat heritage dari Indonesia yang menetap di Amsterdam.

Sekilas Maastricht
Beruntung kami tiba lebih awal jadi ada waktu untuk menjelajahi sebagian kecil dari pusat kota (disebut centrum atau binnenstad). Kami mampir sebentar ke river promenade di bantaran Sungai Meuse sebelum menuju centrum. Centrumnya unik, sebagaimana kota-kota di Belanda (dan Eropa umumnya), dulunya ada dalam benteng dan beberapa bagian benteng kotanya yang dibangun di periode medieval, masih tersisa. Benteng ini, meski tidak utuh terlihat menarik, menjadi elemen fisik (sejarah) kota. Landform kota ini agak berbukit-bukit, karena Maastrich ada di lembah, berbeda dengan bagian tengah dan utara Belanda yang ada di dataran flat.

fortress

Bagian benteng kota

Seperti halnya kebanyakan kota di Belanda pada khususnya dan negara-negara Eropa umumnya, banyak bangunan-bangunan tua disini, setidaknya di bangun sejak abad 17 (bahkan sebelumnya) yang masih bertahan dan dimanfaatkan kembali (reuse) seperti misalnya untuk kantor, hotel, restaurant, pertokoan, dan hunian. Beberapa bangunan diberi tanda ‘blue shield’ yang menandakan bangunan tersebut terdaftar sebagai monumen yang dilindungi dan diselamatkan dari bencana alam maupun yang disebabkan manusia, misalnya perang dan kebakaran (info lengkap blue shield ada di SINI). Universitas Maastricht sendiri -beberapa jurusan seperti Arts, humanities, dan sosial science- juga ada di pusat kota, beberapa diantaranya menempati bangunan-bangunan tua. Oya, Propinsi Limburg bagian selatan dulunya dikenal sebagai daerah tambang batubara sejak abad 16 dan baru ditutup di abad ke-20, jadi propinsi ini memiliki banyak industrial heritage. Info sejarah kota Maastricht dapat dilihat di SINI

Old_buildings

Tanda ‘blue shield’ dan bangunan tua yang dimanfaatkan untuk restaurant

2 jam – 4 pembicara
Seminar diadakan di gedung Jan van Eyck Academy, dimulai tepat jam 14.00. Setelah seminar dibuka –secara sederhana dengan pidato yang singkat dan padat- pembicara pertama yaitu Prof. dr. Ad Knotter dari Sociaal Historisch Centrum voor Limburg mempresentasikan beberapa hasil riset yang dirangkum dalam The four coal mining districts in the Meuse-Rhine borderlands: so close to each other, yet so different. Secara gasir besar beliau memaparkan beberapa kondisi sosial dalam industri pertambangan dari 4 kota di Liege, Aachen dan Limburg. Beberapa aspek yang dianalisis dengan pendekatan kuantitatif misalnya perkembangan industri tambang, modal dan kepemilikan, serta migrasi penambang. Pembicara kedua, yaitu Dr. Marijn van de Weijer dari Faculty of Architecture and Art, Hasselt University-Belgia, menyampaikan tema Re-using built structures: confrontations between the fields of conservation, (regional) planning and design. Selain menjelaskan beberapa teori terkait konservasi cultural heritage, juga dipaparkan beberapa proyek yang telah dikerjakan sebagai contoh.

Pembicara ketiga, yaitu Lidy perwakilan dari IBA Parkstad, membawakan IBA-Parkstad-Challenges and projects for Euregio. IBA, kepanjangan dari Internationale BauAusstellung or International Building Exibition, merupakan sebuah pendekatan dalam merencanakan dan mengelola suatu kawasan. Pendekatan yang berkembang di Jerman ini sudah diterapkan di beberap kota di Jerman, dan untuk pertama kalinya diaplikasikan di Belanda untuk kawasan yang meliputi kota-kota bekas tambang yaitu: Heerlen, Kerkrade, Landgraaf, Brunssum, Voerendaal, Simpelveld, Nuth and Onderbanken di Propinsi Limburg. Yang menarik dari pendekatan ini yaitu aspek yang direncanakan tidak hanya lingkungan fisik namun juga non-fisik, yaitu mind set dan budaya penduduk kota. Info lebih jauh tentang IBA-Parkstad dapat dilihati di SINI . Sementara itu pembicara terakhir, yaitu Dr Marion Fontaine, dari Centre Norbert Elias, Universite d’Avignon, menyajikan From the industrial artefacts to the values? The intangible heritage in the case of the mining world. Beliau lebih menonjolkan aspek intangible yang potensial pada suatu industrial heritage, seperti cerita, lagu-lagu, festival, dan bahkan tata cara penambang dulu bekerja.

Seminar session

Suasana seminar

Menurut saya keempat materi yang disampaikan menarik, karena industrial heritage adalah hal baru bagi saya. Dalam badan dunia, industrial heritage ada di bawah koordinasi ICOMOS, dimana bidang ini menjadi bagian dari cultural heritage. Organisasi dunia yang terkait dengan industrial heritage yaitu The International Committee for the Conservation of the Industrial Heritage (TICCIH). Berdasarkan The Nizhny Tagil Charter for the Industrial heritage tahun 2003 dinyatakan bahwa:

Industrial heritage consists of the remains of industrial culture which are of historical, technological, social, architectural or scientific value. These remains consist of buildings and machinery, workshops, mills and factories, mines and sites for processing and refining, warehouses and stores, places where energy is generated, transmitted and used, transport and all its infrastructure, as well as places used for social activities related to industry such as housing, religious worship or education.

Jika kita simak definisi tersebut, sepertinya bidang ini lebih condong ke elemen fisik bagian dari suatu kegiatan industri.  Namun jika kita baca pada bagian “Values of industrial heritage” pada piagam ini, maka kita akan temukan bahwa elemen intangible merupakan nilai penting yang melekat pada elemen fisik/tangible tersebut. Selain itu, definisi ini juga lebih fokus pada kegiatan industri di masa lalu, dan pada beberapa sumber disebutkan teruama pada kegiatan industri yang muncul karena pengaruh industrialisasi, dimana pada di banyak belahan dunia dipicu oleh revolusi industri. Padalah di banyak tempat, bisa jadi industri sudah tumbuh sebelum revolusi industri, meski masih bersifat tradisional. Selain itu, tak jarang industri tersebut masih beroperasi hingga sekarang. Biasanya industri-industri berskala kecil dan tradisional seperti wayang, kain tradisional (songket, tenun, batik) bertahan lama karena diturunkan dari generasi ke generasi.

Di Indonesia sendiri saya yakin banyak sekali industrial heritage, yang modern maupun yang tradisonal, baik yang masih aktif –seperti perkebunan teh, pabrik gula, tambang tradisional intan dan timah; maupun yang sudah mati, seperti tambang-tambang batu bara di Kalimantan dan pelabuhan tua di berbagai kota pesisir. Masalahnya adalah kita terkadang tidak melihat industri tersebut sebagai heritage yang potensial diikembangkan untuk mendapatkan nilai lebih. Nilai lebih ini tidak melulu bersifat ekonomis, walaupun nantinya memang bisa dikemas untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Lebih dari itu yang terpenting adalah agar heritage tersebut lestari, sebagai bagian dari sejarah budaya dan kehidupan lokal – saksi bisu perubahan lanskap daerah setempat jika berupa elemen fisik; dan rantai penghubung antara generasi di masa lalu dengan masa sekarang bahkan masa depan, bila heritage tersebut intangible.

Terkait dengan lanskap, semua kegiatan industri dalam berbagai skala dilakukan pada suatu area, jadi lanskap adalah wadahnya. Dalam kondisi tertentu bahkan industrial heritage ini dapat membentuk identitas lanskap karena menjadi elemen dominan yang kemudian mempengaruhi karakter lanskap setempat. Arsitek lanskap semestinya bisa berperan dalam pengembangan industrial heritage, misalnya melalui perencanaan dan rancangan kawasan atau melakukan studi dari sudut pandang lanskap. Semoga nantinya industrial heritage di tanah air menjadi lebih terpelihara dan aristek lanskap terlibat didalamnya.

Meet the locals
Setelah seminar berakhir sekitar jam 18.00 kami memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum pulang (Catatan: jam 18.00 adalah saatnya makan malam di Belanda). Bersama Lidy, yang ternyata orang Limburg, kami mencoba cafe setempat –De Tribunaal- tidak jauh dari tempat seminar. Menurut Lidy kalau kami mau lebih tahu tentang orang-orang setempat sebaiknya berkunjung ke tempat ‘hang out’ yang populer disana. Café itu sangat penuh dengan pengunjung, sampai2 mereka berdiri sambil minum dan ngobrol dan kami berbagi meja dengan 2 pengunjung yang sedang main kartu :D. Ternyata café itu salah satu tempat warga Maastricht bersosialisasi. Bisa dibilang kebanyakan pengunjung adalah orang-orang dewasa dan tua. Yang serunya lagi, saat itu ada jazz live performance. Jadi kebayang kami bertiga (dan juga pengunjung lain) harus bicara dengan volume keras bersaing dengan musik. Yang unik, pengunjung boleh makan kacang yang disajikan di meja -tanpa wadah- dan boleh membuang kulitnya di bawah meja (wah!).

Ruang-ruang terbuka di centrum

Ruang-ruang terbuka di centrum

Tak berapa lama kami beranjak mencari tempat makan malam, kami pergi ke Café Sjiek. Café ini juga penuh pengunjung, untungnya ada beberapa kursi kosong, itupun di meja bar yang sempit. Berbeda dengan De Tribunaal, di restaurant ini ada anak-anak, orang tua, hingga opa-oma. Karena ingin mencicipi makanan khas Maastricht, saya disarankan memesan Zoervleis, yang menurut saya seperti semur daging hanya saja agak asam. Belakangan baru kami tahu kalau café ini masuk dalam daftar Michelin guide 2015, pantas saja ramai karena menunya mantap dan harganya terjangkau (terutama buat mahasiswa :-D).

Baiklah, setelah perut kenyang, kami pulang, lewat Amsterdam saya lanjutkan perjalanan ke Groningen. Untungnya ini malam Senin, jadi walaupun menjelang tengah
malam, kereta penuh dengan mahasiswa Unversitas Groningen dan Hanze Hogheschool yang hendak kembali ke kost-kostannya di Groningen. Alhamdulillah, jadi pulang tidak sendirian dan aman :-)

Links:

Maastricht: https://en.wikipedia.org/wiki/Maastricht

Blue shield: http://www.ancbs.org/cms/en/about-us/about-icbs

IBA-Parkstad: http://www.iba-parkstad.nl/en/

Industrial heritage: http://www.icomos.org/18thapril/2006/nizhny-tagil-charter-e.pdf

TICCIH: http://ticcih.org/

4 thoughts on “Perjalanan ke Maastricht dan seminar industrial heritage

    • Yup, dan pengembangan industrial heritage juga bisa menciptakan lapangan kerja baru terlepas dari para pelaku industri itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *