Semarang-the city of Thomas Karsten

FacebookTwitterGoogle+LinkedInShare

Thomas Karsten 1911 (Sumber foto: Cote & O'Neill, 30 )

Thomas Karsten 1911 (Sumber gambar: Cote & O’Neill, 30 )

Semarang-ibu kota propinsi Jawa Tengah, di masa kolonial merupakan salah satu dari tiga kota yang dianggap modern di Indonesia, selain Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Pengembangan kota Semarang di awal abad ke-20 tak lepas dari peran Ir. Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda yang selama perjalanan karirnya berkontribusi besar dalam pengembangan kota di Indonesia di masa kolonial dan dipandang sebagai “Perancang Modernisme Semarang.” Banyak sudah sumber online yang mengulas Thomas Karsten. Tulisan ini hendak meramaikan khasanah tentang Karsten yang telah ada dengan secara singkat mengulas profil Karsten dan perannya dalam perencanaan kota pada umumnya di Indonesia, dan kota Semarang pada khususnya. Sebagian besar informasi dalam tulisan ini bersumber dari buku biografi berjudul “The life and work of Thomas Karsten.”

Karsten dalam rancangan bangunan dan perkotaan

Herman Thomas Karsten dilahirkan di Amsterdam, 22 April 1884 dan meninggal di kamp pengasingan Jepang di Cimahi pada 21 April 1945. Karsten pertama kali tiba di Hindia Belanda pada September 1914 atas undangan Henri Maclaine Pont -teman semasa kuliah di Delft Technische Hoogeschool Belanda. Ia memulai karirnya sebagai arsitek di Hindia Belanda bekerja sama dengan Maclaine Pont yang lebih dahulu membuka firma arsitektur di Semarang. Karsten menetap di Semarang hingga tahun 1930, dan kemudian memindahkan kantor serta kediamannya ke Bandung di tahun 1931.

Bangsal Pracimasono saat ini, perubahan pada penambahan dinding kaca (sumber foto: heritageweb.id)

Bangsal Pracimasono saat ini, perubahan pada penambahan dinding kaca (sumber foto: heritageinventoryweb.id)

Karsten merupakan arsitek di Hindia Belanda yang dikenal dengan berbagai desain bangunan yang cukup penting di masanya tak hanya di kota Semarang namun juga di daerah Hindia Belanda lainnya. Sebut saja misalnya Bangsal Pracimasono dalam kompleks Keraton Mangkunegaran di Surakarta, Musium Sono Budoyo di Jogjakarta, Balaikota (raadhuis) di Padang, dan kantor pusat perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschapij (sekarang kantor PT KAI Divisi Regional 1 Sumatera Utara). Selain merancang bangunan kantor dan hunian, ia juga merencanakan fasilitas publik seperti pasar dan masjid, diantaranya Pasar Cinde di Palembang dan Masjid Margo Yuwono di Yogyakarta, serta Pasar Gedhe dan Masjid Al Wustho di Surakarta.

Cover jurnal Djawa yang didesain oleh Karsten (Cote & O’Neill, 104)

Cover jurnal Djawa yang didesain oleh Karsten (Sumber gambar: Cote & O’Neill, 104)

Dalam rancangan arsitekturalnya, Karsten tak hanya mempertimbangkan faktor iklim tropis yang merupakan aspek penting arsitektur Indies- namun juga beradaptasi dengan kondisi lanskap dan karakter sosial budaya serta penggunaan material lokal. Terkait issue budaya, ia memiliki minat besar terhadap tradisi Jawa dalam konteks perkembangan dan keberlanjutannya. Hal ini terlihat dari berbagai publikasi, misalnya di jurnal DeTaak dan Djawa, maupun keterlibatannya dalam organisasi seperti Semarang Kuntskring dan Java Instituut.

 

 

Masji Al Wustho, kental dengan gaya arsitektur Jawa (sumber: id.wikipedia.org)

Masji Al Wustho, kental dengan gaya arsitektur Jawa (Sumber foto: id.wikipedia.org)

Meskipun berlatar belakang pendidikan arsitektur, Thomas Karsten memberikan perhatian serius terhadap implementasi perencanaan kota di Hindia Belanda yang hingga awal abad ke-20 belum terstruktur secara sistematis. Kontribusi Karsten sangat penting dalam pengembangan pedoman penataan perkotaan kala itu. Pemikirannya tentang prinsip dasar perencanaan perkotaan tertuang dalam makalahnya yang berjudul “Town planning in the Indies: the aim and nature of modern town planning” (Indiese Stedebouw: Doel en geest van den moderne stedebouw) di tahun 1920. Ia mengemukakan konsep penataan spasial secara fungsional, tipologi jalan dan bangunan, ruang publik termasuk ruang terbuka hijau dan penggunaan tanaman, serta aplikasi elemen khusus seperti lapangan dan fasilitas olahraga. Dalam praktek ia pun dipercaya beberapa pemerintah kota sebagai perencana kota/bagian kota antara lain di Malang, Batavia dan Bogor, atau sebagai konsultan/penasehat misalnya di Bandung dan Banjarmasin. Dengan gagasan dan pengalaman tersebut, Karsten berperan penting dan terlibat secara langsung dalam penyusunan Peraturan Perencanaan Kota (Stadsvormingsordonnantie) yang selesai pada 1938. Pedoman ini kemudian tetap dipakai sebagai dasar perencanaan kota di Indonesia hingga kemudian digantikan oleh Undang-Undang No 24 tahun 1992 Penataan Ruang.

Jejak karya Karsten di Semarang

Kota Semarang merupakan salah satu pusat ekonomi Hindia Belanda yang berperan dalam ekspor produk pertanian, terutama sejak paruh kedua abad ke-19. Hal in iditandai dengan pembangunan infrastruktur penunjang (stasiun kereta api pertama di Indonesia dibangun di kota ini) dan tumbuhnya kantor-kantor perusahaan baik yang bergerak dalam bidang perdagangan maupun jasa, serta munculnya pemukiman. Pertumbuhan ekonomi di kota kolonial ini mendorong migrasi yang menyebabkan meningkatnya populasi penduduk dan kemudian berdampak pada munculnya berbagai masalah lingkungan perkotaan. Kurangnya pemukiman layak huni, tumbuhnya kampung urban secara organik, masalah sanitasi, kebersihan dan estetika merupakan fenomena urban yang dihadapi pemerintah kota Semarang di awal abad ke-20.

Setelah sebelumnya rencana awal pengembangan kota Semarang dibuat oleh KPC de Bazel pada 1907 namun tidak diimplementasikan, pemerintah kota di tahun 1916 menugaskan kantor konsultan Maclaine Pont untuk membuat rencana perluasan kota. Tugas ini dikerjakan oleh Karsten, yang kemudian ia revisi di tahun 1919 dan menghasilkan sebuah rencana kota yang merefleksikan teori desain kota Eropa modern dan dipengaruhi konsep “garden city” yang dicetuskan oleh Ebenezer Howard di penghujung abad ke-19. Konsep ini dicirikan salah satunya dengan penempatan ruang terbuka hijau dan penciptaan avenue dengan pepohonan di kedua sisinya sebagaimana diaplikasikan dalam rencana Karsten. Produk rancangannya yang  fungsional, harmonis dan organis ini pada masa itu dianggap sebagai sebuah rencana kota pertama yang ekstensif dan komprehensif di Hindia Belanda (Cote & O’Neill, 274). Rencana ini mencakup area selatan Semarang yang kemudian dinamai Candi Baru, serta kawasan menuju pusat kota (sekarang kota tua), seperti Peterongan-Pekonden, Lempongsari, Ngalik dan Sompok. Inovasi Karsten yang penting dalam rancangan ini yaitu pendekatannya berdasarkan faktor sosial-ekonomi tanpa membedakan karakter etnis, yang secara tidak langsung mencerminkan pandangan politik Karsten yang netral.

Rencana Perumahan Mlaten; rancangan pemukiman padat ini dilengkapi dengan ruang terbuka hijau publik untuk meningkatkan sense of communitydengan (Cote & O’Neill, 174)

Rencana Perumahan Mlaten, rancangan pemukiman padat ini dilengkapi dengan ruang terbuka hijau publik (nampak warna hijau pada gambar) untuk meningkatkan sense of community penghuninya (sumber gambar: Cote & O’Neill, 174)

Pada tahun 1919, bekerja sama dengan pemerintah kota Karsten menyumbangkan gagasannya pada proyek rumah rakyat Mlaten di Kampung Sompok (sekarang Kelurahan Bugangan, Semarang Timur). Meskipun bersifat permukiman masal, yang perlu dicatat kaitannya dengan penataan lanskap yaitu ia memperhatikan aspek sosial dengan menyediakan ruang terbuka yang diharapkan dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat. Ruang ini berbentuk linear dengan ukuran berbeda-beda yang menjadi area depan atau halaman rumah-rumah di sekelilingnya dan menjadi semacam taman publik yang diisi dengan berbagai elemen tanaman termasuk pohon buah-buahan. Penataan ruang terbuka ini sepertinya kemudian diterapkan pada pengembangan sebagian besar permukiman di Indonesia hingga saat ini, terlepas bahwa penyediaan ruang terbuka hijau publik telah menjadi standar dalam penataan ruang pemukiman.

Gedung NILLMIJ dari arah samping (Sumber foto: Cote & O'Neill)

Gedung NILLMIJ dari arah samping (Sumber gambar: Cote & O’Neill)

Sebagai arsitek, banyak bangunan penting di kota Semarang  yang merupakan karya Thomas Karsten. Salah satu peninggalannya yang merupakan karya di awal masa karirnya dan secara arsitektural dianggap sukses yaitu Kantor asuransi Nederlandsch-Indische Levensverzekering en Lijfrenet Maatschappij atau NILLMIJ yang kala itu berlokasi di pusat kota (sekarang gedung Asuransi Jiwa Sraya, berdekatan dengan Gereja Imanuel yang dikenal dengan Gereja Blenduk). Bangunan lainnya yang sejauh ini teridentifikasi sebagai karya Karsten tersebar di berbagai lokasi seperti: Kediaman Thio Thiam Tjong, keluarga etnis China terpandang kala itu– di daerah Candi (sekarang menjadi restoran), Burgermeesterswoning atau kediaman walikota (sekarang dikenal dengan Puri Wedari untuk rumah dinas komandan regional TNI), Stoomvaart Maatschappij Nederland (sekarang gedung PT Djakarta Loyd Persero), Kantor pusat kereta perusahaan tram dan kereta api Zustermaatschappijen (sekarang kantor regional PT KAI Daerah Operasi 4 Semarang), showroom toko furniture Van de Pol (sudah tidak ada, di Jalan Pemuda), Handelsvereeniging, gedung teater rakyat Sobokartti, RS Elizabeth di daerah Candi Baru, Van Deventer School (sekarang Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini), Rumah pemotongan hewan di Pandean Lamper, Pasar Randusari, Pasar Djatingaleh, dan Pasar Djohar.

Gedung NILLMIJ saat ini dimanfaatkan untuk gedung kantor dan masih mempertahankan desain asli (sumber foto: riskmanagement.co.id)

Kondisi Gedung NILLMIJ saat ini (sumber foto: riskmanagement.co.id), dimanfaatkan untuk gedung kantor dan masih mempertahankan desain asli Karsten (sumber foto: riskmanagement.co.id)

Melihat besarnya kontribusi Karsten terhadap perkembangan kota khususnya di Semarang pada awal abad ke-20, maka dalam konteks sejarah kota, Semarang bisa disebut sebagai kotanya Karsten – “the city of Karsten,” julukan yang telah diberikan sejak masa kolonial. Semarang saat ini tak hanya menyimpan peninggalan Thomas Karsten yang tangible, baik dalam bentuk tata ruang beserta elemen pengisinya seperti koridor jalan dan bangunan, namun juga menjadi saksi separuh periode kehidupan Karsten di Hindia Belanda. Fenomen kesejarahan ini potensial untuk diintegrasikan dalam pengembangan wisata di Semarang, khususnya terkait wisata sejarah kota yang selama ini sudah mulai berkembang di kota ini. Tentunya penerapannya akan banyak bermuatan edukasi, namun –sebagaimana perencanaan wisata pada umumnya, hendaknya tanpa mengabaikan aspek rekreatif.

Pustaka:

Joost Cote & Hugh O’Neill, The Life and Works of Thomas Karsten, Rotterdam: Architecture & Natura, 2017.

James L. Cobban, “Exporting Planning: The Work of Thomas Karsten in Colonial Indonesia,” in A.K. Dun et. Al. (eds), The Asian City: Processes of Development, Characteristic and Planning (1994), 249-264

Sumber online:

Candi, Candisari, Semarang https://id.wikipedia.org/wiki/Candi,_Candisari,_Semarang#Candi_Baru

Mengenang Karsten, Sang Pembangun Modernisasi Semarang, di Kota Lama http://jateng.tribunnews.com/2016/12/04/mengenang-karsten-sang-pembangun-modernisasi-semarang-di-kota-lama?page=2.

Keukenhof: perpaduan aspek budaya, sejarah, seni, dan ilmu pengetahuan dalam satu lanskap agrowisata


A river of flowers

A river of flowers

Keukenhof – berlokasi di Lisse, Provinsi South Holland, Belanda, adalah taman musim semi seluas 32 ha yang hanya dibuka 8 minggu dalam setahun. Meskipun pendek waktu operasionalnya dalam setahun, taman ini mampu menarik rata-rata 800.000 pengunjung, dan menjadi tujuan utama wisatawan ke Belanda di musim semi. Dengan beragam objek dan atraksi wisata yang ditampilkan secara dinamis setiap tahunnya, tak heran jika Keukenhof selalu dipenuhi pengunjung. Tahun ini ditargetkan Keukenhof akan dikunjungi oleh 1,250 juta orang. Tentunya keindahan visual susunan bunga tulip menjadi magnet utama. Namun Keukenhof sebenarnya tidak hanya sebatas “taman tulip”; tempat ini bukan sekedar taman rekreasi. Di balik rancangan lanskapnya, unsur budaya, sejarah, seni dan ilmu pengetahuan sangat kuat melatarbelakangi pengembangan lanskap taman ini.

Florikultura sebagai upaya adaptasi lingkungan

Langkap ladang tulip di sekitar Keukenhof

Lanskap ladang bunga di sekitar Keukenhof

Karakter lanskap Keukenhof dan area sekitarnya (membentang dari Leiden hingga Haarlem) – khususnya di Lisse, yang ada saat ini merupakan manifestasi interaksi antara manusia dengan lingkungannya dari waktu ke waktu. Dengan kondisi fisik tanahnya berpasir dan beriklim sesuai untuk budidaya bulb flowers, mereka kemudian memodifikasi lanskap untuk ladang floriculture; suatu bentuk adaptasi penduduk untuk menjadikan kawasan tersebut produktif sebagai sumber penghidupan. Praktek yang telah dijalankan dari genereasi ke generasi ini menjadikan budidaya bunga sebagai penggerak ekonomi utama penduduk Lisse dan sekitarnya, yang secara tidak langsung berdampak pada budaya setempat. Ladang bunga yang mendominasi kawasan dan infrastruktur kota untuk mendukung kelancaran produksi pun menjadi elemen pembentuk karakter fisik lanskap lokal. Perpaduan aspek budaya dan lingkungan fisik menjadikan kawasan ini dikenal sebagai pusat produksi bunga potong dan bulbs yang nilai ekspornya mendominasi pasar bunga potong dan bulbs dunia.

Aspek kesejarahan dalam tema tahunan

Meskipun taman beserta tradisi pamerannya ini secara resmi baru berusia 67 tahun, dimulai tahun 1949, namun lanskap kawasan ini memiliki sejarah panjang setidaknya sejak abad ke-15. Kastil Keukenhof, dibangun di awal abad ke-17, merupakan artefak arkeologis yang menjadi saksi transformasi lanskap yang panjang. Kastil yang kemudian menjadi museum ini merupakan salah satu obyek yang diintegrasikan dalam wisata Keukenhof.

Mozaic bunga tulip yans selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2013 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Mozaic bunga tulip yang selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2014 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip seukuran rumah yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Unsur kesejarahan, selain itu juga diaplikasikan melalui tema utama keukenhof yang selalu berubah setiap tahun, yang biasanya erat kaitannya dengan dimensi kesejarahan. Sebagai contoh tahun 2016 ini bertema “The Golden Age” dimana pada masa tersebut, yaitu di abad ke-17, Belanda mencapai jaman keemasan, dengan majunya perdagangan, seni, dan sains. Era ini juga menjadi puncak kejayaan perdagangan bunga tulip di Belanda yang menjadikan tulip melekat sebagai identitas negeri ini; padalah tulip aslinya dari Himalaya. Biasanya tema tahunan ini kemudian mendasari tema-tema di beberapa pavillium pameran dan juga dispaly mozaic bunga tulip. Dengan berbagai tema ini sebenarnya secara tidak langsung pengunjung diedukasi untuk mengenal beragam peristiwa budaya dan tokoh bersejarah. Sebagai gambaran, tema lain dalam empat tahun yang lalu yaitu Van Gogh (2015), Holland (2014), United Kingdom-Land of Great Gardens (2013), dan Poland-heart of Europe (2012).

Sajian seni dalam taman yang estetis

Rancangan lanskap dalam taman ini dibuat dengan cita rasa seni. Berbagai tema taman, mulai dari klasik, modern, formal, playful, romantic, adventurous, fantasy, grande, intimate; semuanya ditampilkan secara kreatif dengan mengkolaborasikan elemen dan prinsip desain melalui elemen taman yang didominasi oleh bunga. Transisi antar ruang menciptakan berbagai kejutan, mood dan rasa keingintahuan yang merupakan elemen psikologis yang berpengaruh terhadap pembentukan pengalaman pengunjung dan menentukan tingkat kepuasan berwisata. Tak heran jika pengunjung ingin datang lagi dan lagi untuk mengeksplorasi Keukenhof. Meskipun beberapa spot pada taman memiliki layout yang tetap, namun susunan warna dan temanya berubah setiap tahun. Berbagai tema tersebut diwujudkan pada taman-taman bergaya English Landscape garden, taman Jepang, taman kesejarahan, maze garden, meadow, taman alami, dan tujuh taman inspiratif.

beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik

Beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik (klik image untuk memperjelas tampilan)

Display artwork

Display artwork

Keukenhof juga berfungsi sebagai outdoor artwork gallery. Dengan konsep sculpture park, taman ini mendisplay sekitar 150an instalasi seni dimana setiap tahun berganti-ganti artis dan produk kreasinya. Artwork tersebut ditata sedemikian rupa sehingga menjadi elemen hardscape yang menyatu dengan elemen taman lainnya. Selain itu, berbagai program seni yang diselenggarakan sepanjang 8 minggu, seperti konser musik, workshop merangkai bunga dan fotografi, pameran kerajinan, menjadikan taman ini bukan sekedar arena pameran taman dan bunga, namun juga pagelaran seni.

Teknologi florikultura

Tentunya performa tulip dan bulbs flower lainnya dalam taman ini sangat merefleksikan aspek ilmu pengetahuan teknik budidaya bunga. Hal tersebut tidak hanya dapat diamati di dalam taman namun juga di ladang bunga sekitar taman yang dapat kita eksplore dengan menyewa sepeda, perahu, atau light flight. Ribuan kultivar tulip hasil persilangan yang didisplay indoor (dalam pavillium) maupun outdoor (di taman) tak hanya menunjukkan estetika tulip yang menawan tapi dibalik itu juga para breeder yang handal (PS: saya jadi merenungi nasib jurusan Teknologi Benih IPB yang kemudian dihapuskan dan dilebur dengan Jurusan Agronomi :’( ) ). Keberadaan museum tulip dalam kompleks taman juga menjadi salah satu sumber pengetahuan tentang sejarah tulip yang ternyata masuk ke Belanda melalui Turki.

education

Transfer of Knowledge : pameran indoor berbagai kultivar bunga dan berinteraksi dengan para gardener

Beberapa kultivar (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World's favourite-World's fire 9dari atas ke bawah)

Beberapa kultivar tulip (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World’s favourite-World’s fire (dari atas ke bawah)

Nampaknya keempat unsur yang telah mewarnai lanskap Keukenhof tersebut berhasil menjadikan tempat ini sebagai taman musim semi yang mengakomodir fungsi rekreasi, edukasi, sosial dan ekonomi untuk berbagai golongan usia dalam satu kawasan. Konsep ini bisa menjadi contoh pengembangan lanskap agrowisata yang integratif dan kreatif, sehingga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Tentunya kesuksesan Keukenhof sebagai kawasan wisata dicapai dengan perencanaan lanskap dan wisata serta implementasi yang matang dalam kerangka waktu yang panjang. Dan dibalik itu semua terdapat banyak stakeholder yang berkomitmen untuk mendukung keberlanjutannya. Mudah-mudahan suatu saat lanskap agrowisata yang dikembangkan dengan konsep mirip Keukenhof akan berkembang di Indonesia dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan khususnya untuk masyarakat lokal. Amin.

Seat back, relax, and enjoy the flowers

Sit back, relax, and enjoy the flowers