Musium Emigrasi Jerman di kawasan wisata pelabuhan Bremerhaven

FacebookTwitterGoogle+LinkedInShare

Masalah migran merupakan issue aktual di Benua Eropa saat ini, setelah beberapa tahun terakhir dibanjiri gelombang migran dari negara-negara yang dilanda konflik di Timur Tengah dan Benua Afrika. Opini pro dan kontra untuk menerima migran pun menjadikan fenomena ini problematik. Di satu sisi negara-negara Eropa dihadapkan pada masalah kemanusiaan, di sisi lain konflik sosial, politik dan ekonomi berpotensi muncul ke permukaan, baik dalam jangka pendek maupun di masa mendatang.  Tulisan ini tidak akan membahas masalah migran :-) . Kali ini akan dibahas pengalaman mengunjungi Deutsches Auswanderer Haus atau Museum Emigrasi Jerman di kota Bremerhaven, Propinsi Bremen, Jerman, ditinjau dari persepsi arsitektur lanskap.

Kota Bremerhaven terletak di tepi pesisir utara Benua Eropa, di muara Sungai Weser. Sebagai kota pelabuhan dagang, Bremerhaven memiliki peran penting bagi Bremen maupun Jerman saat ini. Di masa lalu, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan utama bagi para migran yang meninggalkan Benua Eropa.  Di kawasan pelabuhan bersejarah inilah museum ini didirikan. Kawasan ini telah dikembangkan menjadi bagian kota yang baru –berupa ruang terbuka dan area rekreasi- yang menjadi penghubung  pusat kota dan Sungai Weser.

Transformasi lanskap Pelabuhan Bremerhaven

Waterfront promenade dan Hotel Atlantic Sail

Hotel Atlantic Sail sebagai salah satu fasilitas yang dibangun di waterfront promenade

Lanskap industri kesejarahan pelabuhan Bremerhaven dikembangkan menjadi kawasan wisata sebagai salah satu upaya pemerintah lokal untuk meningkatkan pendapatan daerahnya. Pada periode 2001-2009, dibuatlah proyek perencanaan dan konstruksi kawasan, dimana desainnya dikerjakan oleh firma arsitek lanskap Latz+Partner. Kawasan seluas 20 ha ini ditransformsi menjadi lanskap water front dengan fungsi residential dan rekreasi. Plaza, kawasan komersial, berbagai atraksi wisata, fasilitas budaya,dan ruang terbuka hijau mengisi kawasan. Beberapa museum dibangun, misalnya Auswanderer Haus, Schepvaart museum, Klimahaus, dan museum kesejarahan. Sepertinya pengembangan kawasan menjadi tujuan wisata ini cukup sukses, karena banyak wisatawan dari luar kota, dan tak jarang mereka berkunjung dalam rombongan besar. Belum lagi kawasan turistik ini dihubungkan dengan pusat perbelanjaan dan food court dekat dengan pusat kota, dimana pengunjung dapat mencapainya melalui over pass berdinding kaca. Hasilnya aktivitas ekonomi di kawasan ini cukup tinggi. Dengan kata lain penataan lanskap kawasan pelabuhan dan sekitarnya untuk tujuan wisata ini mampu menjadi solusi untuk meningkatkan perekonomian daerah.

Waterfront promenade di area pelabuhan lama

Waterfront promenade di area pelabuhan lama

Wisata museum: edukatif, atraktif, interaktif, rekreatif

Area tunggu sebelum memasuki ruangan museum

Area tunggu sebelum memasuki ruangan museum

Deutsches Auswanderer Haus berfungsi sebagai museum dan kantor arsip. Fungsinya sebagai museum jelas terlihat dari berbagai display tematik yang secara garis besar dibagi menjadi tema emigrasi dan imigrasi. Selain itu, didalamnya terdapat layanan kantor arsip dimana kita dapat menelusuri pencarian data migran secara rinci. Sebagaimana kebanyakan museum Eropa pada umumnya, desain display objek dalam museum ini atraktif, interpretative dan interaktif, sehingga berkunjung ke museum tidak hanya sekedar menghibur (rekreatif) namun juga mendapatkan pengetahuan (edukatif).

Suasana di ruang tunggu media audio-visual theatre bergaya Roxy cinema tempo dulu

Suasana di ruang tunggu media audio-visual theatre bergaya Roxy cinema tempo dulu

Saat membayar tiket, pengunjung akan mendapatkan boarding pass dengan semacam kartu elektronik (icard) didalamnya. Kartu ini digunakan untuk mengaktifkan media interpretasi berupa informasi audio pada titik-titik tertentu dengan bahasa sesuai pilihan. Pada boarding pass tertera dua nama  yaitu emigran dan imigran. Pada tema emigrasi, kita mendapatkan berbagai informasi statistik  naratif dan replika gelombang emigrasi melalui pelabuhan Bremerhaven sejak abad 18. Suasana suram di pelabuhan ketika para migran hendak berlayar, kamar penumpang kelas 3 yang sempit dan tidak sehat termasuk toilet, ruang makan dan storage bahan makanan, hall stasiun subway New York-sebagai poin penting bagi migran yang baru tiba di Amerika Serikat, kantor migrasi Jerman bergaya art-deco, toko dan kios usaha para migran di negara tujuan, semuanya merupakan beberapa spot diorama (dengan objek display otentik) dan replika dengan skala manusia yang dapat kita eksplor. Spot menarik lainnya yaitu theatre tempat pemutaran film dokumenter tentang migran, yang ditata sedemikian rupa lengkap dengan booth tiket dan ruang tunggunya ala Roxy cinema tempo dulu.

Diorama suasana suram di pelabuhan dengan para migran yang hendak naik ke kapal

Diorama suasana suram di pelabuhan dengan para migran yang hendak naik ke kapal

Banyak informasi tentang migrasi yang dapat kita pelajari di museum ini. Berbagai faktor yang menyebabkan migrasi dijelaskan, seperti misalnya perang, kondisi politik yang mengancam jiwa, dan situasi ekonomi yang tidak menentu. Selain itu terdapat juga informasi asal negara migran yang didominasi dari Jerman, Rusia, Polandia, dan Austria, dengan negara tujuan utama para migran: USA, Brazil, dan Sidney. Tak heran jika berdasarkan sensus di USA tahun 2000, 15% penduduknya merupakan keturunan bangsa Jerman. Yang unik dari museum ini, kita dapat menelusuri perjalanan  hidup migrasi orang yang namanya tertera pada boarding pass yang kita dapat ketika membeli tiket. Bagi pengunjung kelompok usia anak dan remaja, penelusuran biografi ini dapat menjadi atraksi yang mengundang curiosity selama menjelajahi museum.

Suasana kantor imigrasi tempo dulu

Suasana kantor imigrasi Jerman tempo dulu

Aplikasi interpretasi

Eksibisi di Auswanderer Haus ditata secara rinci. Jika dilihat dari desain exterior bangunan, museum ini terkesan biasa saja. Namun didalamnya museum ini menawarkan beragam spot, yang sangat memperhatikan detail –baik dari segi kesejarahan maupun elemen display- sehingga mampu membawa kita ke suatu masa sekitar 1-2 abad yang lalu. Transisi ruang diciptakan sedemikian rupa mengarahkan pengunjung mengikuti lorong waktu dari masa lalu hingga periode saat ini. Berbagai elemen pengisi ruang disajikan dengan desain yang kreatif, inovatif dan sarat dengan nilai kesejarahan. Perubahan suasana ruang dari gelap dan suram hingga kemudian menjadi lebih terang dan berwarna seolah merepresentasikan nuansa ketidakpastian nasib yang dihadapi oleh para migran ketika berangkat dari Bremerhaven, hingga kemudian mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negara tujuan.

Media audio interpretasi: pengunjung mentap icard pada sign (kiri atas) dan mendengarkan penjelasan melalui earphone (kanan atas)

Media audio interpretasi: pengunjung men-tap icard pada sign (kiri atas) dan mendengarkan penjelasan melalui earphone (kanan atas); kertas di bagian bawah semacam boarding pass yang diberikan ke setiap pengunjung, berisi 2 nama migran (salah satunya Sabine Schastok) yang dapat ditelusuri biografinya di museum

Semua teori tentang interpreatsi yang pernah saya baca diwujudkan dalam museum ini. Mulai dari sistem non-guide/ personal interpretation dengan bantuan icard, media interpretasi audio visual yang dilengkapi headset (dengan model jadul), teknik interpretasi yang melibatkan seluruh panca indera pengunjung melalui berbagai replika skala manusia, signage yang tidak hanya informatif namun juga estetik, dan materi interpretasi yang komprehensif. Sehingga tujuan interpretasi untuk memberikan pemahaman tentang fenomena migran kepada pengunjung (berdasarkan pengalaman saya) bisa dibilang berhasil. Jika kita berniat mengamati seluruh elemen, mungkin perlu waktu seharian di museum ini. Ada satu hal yang menarik: pengunjung harus membayar 1,5 e jika hendak memotret di dalam museum. Sepertinya cukup mahal, karena tiket saja seharga 13,80 e per 1 orang dewasa. Namun setiap sudut museum ini menawarkan spot menarik yang sayang jika tidak diabadikan sehingga tidak rugi jika kita harus membayar. Sepertinya tambahan biaya memotret ini juga menjadi strategi bagi museum untuk menambah pemasukan 😀

Seluruh foto dalam museum diambil oleh Rina Hidayanti- sepupu yang menetap di Bremen dan telah berbaik hati mengajak dan mentraktir jalan-jalan ke museum :-)

LINKS

Kawasan wisata pelabuhan Bremerhaven http://www.bremerhaven.de/experience-the-sea/service-infos/urban-history/old-harbor-new-harbor-city-center.50206.html

Museum Emigrasi Jerman http://www.bremerhaven.de/experience-the-sea/objects-of-interest/museums-adventure-worlds/german-emigration-center-bremerhaven/german-emigration-center-bremerhaven.46859.html

LATZ+PARTNER http://www.latzundpartner.de/en/projekte/urbane-transformation/havenwelten-alterneuer-hafen-bremerhaven-de/

Kampong as an urban landscape feature in Banjarmasin (South-Kalimantan, Indonesia) from the past until present


Kampongs (kampung-s in Bahasa) have contributed in shaping the socio-spatial structure of the early Banjarmasin landscape. Kampongs, which formerly were known as the lowest unit of area organized under the Banjarmasin sultanate authority (16- 19th centuries), in fact, have persisted in the city until today, although the landscape of kampongs has experienced several changes over time. The objectives of this study are twofold: first, to analyse the transformation of the kampong from pre-colonial, colonial, and post-colonial periods, by exploring its physical and cultural landscape elements; second, to examine the interactions of these elements to understand the processes which have promoted these changes.

Kampung Kenanga Banjarmasin

Kampung Kenanga Banjarmasin

Catatan: Abstrak material presentasi pada Kenniscentrum Landschap Symposium, Groningen, 20 April 2016

The cultural values of the landscape of Batik Giriloyo, a traditional industry of Yogyakarta


Batik is an art and craftsmanship which is a paragon of Indonesian cultural heritage. It is a traditional technique to decorate cloth which has been passed down from one generation to another for hundreds of years. On the island of Java Batik could formerly only be worn by Royal Families. Batik patterns were exquisitely designed and symbolized philosophical meanings which represented social status.

Due to its significance batik has been assigned the status of Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO on October 2, 2009. Afterwards the Indonesian government has designated 2 October as National Batik Day and has encouraged Indonesians to wear batik. The UNESCO recognition and government endorsement have given considerable influence to the Indonesian people on wearing batik garments and on having household items and handicrafts with batik design. This enthusiasm certainly have boosted the batik industry which today has become an important sector in the Indonesian economy. Furthermore, it has stimulated the re-emergence of traditional batik production centres in the country.

IMG-20151119-WA0006

An example of Batik Giriloyo using natural coloring material (picture credit: Tendy Satrio)

On Java, Yogyakarta is one of the primary batik production centres on the archipelago. There are several batik production areas in the region; one of them is in Wukirsari Village in Imogiri sub-district, which produce Batik, namely Giriloyo. Three main hamlets (dusun-s) are main producers in this village: Karangkulon, Giriloyo, and Cengkehan. Batik Giriloyo is manufactured by hand-drawn and stamped so the quality is different to Batik textile produced by machine. Recently the hamlets engage in tourism services alongside the batik production with batik and landscape as attractions. It seems that batik culture has been embedded in the landscape in a special way which causes Batik Giriloyo and its production area to be distinctive among batik production centres. This phenomenon will be explored by interpreting the various cultural values of the landscape of the hamlets.

History

The history of batik in the area was influenced by the establishment of the Imogiri graveyard – a cemetery of the Mataram kingdom’s Royal Families – in a hill near the hamlets in 1632. Sometime after the construction, the Mataram Yogyakarta King ordered the communities surrounding the graveyard to produce Batik for the Royal Families and the servants who guarded the cemetery. At that time the people assigned were only taught how to draw the pattern on the cloth. Although the palace later terminated the order they kept drawing and sold the pattern to the merchants in the city. They started to produce their own batik after several groups of batik drawers were trained in colouring batik through a disaster relief program. This program was undertaken after a 6.2 SR earth-quake hit Yogyakarta in 2006 which caused severe damage in the hamlets. The manufacture of Batik Giriloyo is a traditional industry which is currently performed by twelve groups of artisans in the three hamlets united in an organization which not only manages batik production but also tourism.

Making batik

The activity of making pattern and colouring batik by a group in a workshop area (picture credit: Batik Berkah Lestari, Karangkulon-Wukirsari)

Cultural values of landscape. An approach to understanding the potential range of values that might be present in landscape, namely Cultural Values Model, has been developed by Janet Stephenson. This concept perceives in a landscape three fundamental components: (1) forms which are related to tangible elements, (2) practices/processes and (3) relationships which include intangible elements. Natural and artificial forms in the landscape of the area are hills, river, rice fields, woodlands and forests, settlements connected by roads, workshops and showroom buildings, the kings’ cemetery, religious buildings, and tourism facilities. The main practices and processes in the landscape include the knowledge and practice of manufacturing Batik, governance of organization, agricultural activities, religious festivals, tourism, earthquakes and landslides. The relationships component consists of the King’s cemetery’s history along with stories and myths, the history of Batik and sense and scenery of the rural landscape.

Imogiri

The stairway to reach the Imogiri Royal Cemetery (picture credit: jogjaheritagewalk.com)

Tourism

Tourism facilities in Javanese architectural style with hilly landscape on the background (picture credit: Lisa Virgiano)

Human-landscape interaction

These three components which basically influence each other can be applied to interpret the interaction of landscape and inhabitants. The hilly topography composed mainly of rocky soils is certainly not suitable for agriculture. Although there are farmers in the hamlets, only a few number who have rice fields while the rest preferring to hire themselves out as labourers. Making batik is therefore a good alternative for livelihood. Instead of rice fields the landscape of the three hamlets predominantly comprised of forest and woodland which form a buffer around the king’s cemetery. This land use is suitable for the landscape because vegetation minimizes run-off reducing the risk of landslides. Unlike heavy industry which involves special structures and buildings for production which occupy a large site, the manufacture of Batik Giriloyo is a domestic industry which can be executed in a small space by engaging in un-intensive activities. Thus, space limitation and fragile landscape pose no problems for the industry.

Conclusion

Although Batik making commenced at the King’s order instead of beginning as a response by inhabitants to the landscape conditions, this intangible element has to some extent affected the landscape. The Batik Giriloyo industry has indeed shaped the identity of the area. The land use of this activity is suitable for a low carrying-capacity landscape; therefore it supports the sustainability of the landscape and subsequently the conservation of the historical landscape of the King’s cemetery. Finally, this traditional industry has contributed to the preservation of Indonesian cultural heritage by putting the knowledge into practise.

Note: This article has been published in the Bulletin of The International Committee for the Conservation of Industrial Heritage, No. 70, 4th quarter, 2015 (Download the article). Many thanks to Ibu Hasti Tarekat for the opportunity to write down an article of industrial heritage, and Catherine Lee and Bernadette Lee for the proof reading and comments.

Asal mula kata “lanskap”


Terschillingen

Rumah tua pada suatu lanskap di Pulau Terschillingen, North Sea-NL

Dalam sejarah, kata lanskap mulanya berasal dari Jerman (atau kawasan Eropa utara yang pada masa itu serumpun bahasanya dengan Jerman) yaitu landschaft, sebuah istilah dalam geografi yang berkembang di kawasan tersebut. Saya sendiri belum memperoleh sumber yang menginformasikan secara pasti periode munculnya istilah ini; hanya dinyatakan bahwa kata ini sudah ada sejak abad pertengahan di Eropa (abad ke-5 hingga ke-15).

Landschaft secara harfiah memiliki arti sebidang lahan yang terbatas. Namun jika dikaji secara historis dan dalam konteks geografis, makna landschaft tidak sekedar sebidang lahan atau suatu wilayah (teritorial). Dalam satu kata ini terkandung makna penting yang menjelaskan konstruksi identitas personal, politis, dan tempat. Secara etimologi, kata landschaft terdiri dari kata land+schaft. Schaft merupakan kata kerja (schaffen) yang bermakna menciptakan atau membentuk. Dalam kata landschaft ini maka terdapat makna penciptaan atau pembentukan suatu wilayah/teritori (land). Pembentukan wilayah tersebut  tidak hanya dalam konteks fisik, namun yang terpenting adalah adanya komponen aturan atau hukum adat (misalnya pembayaran pajak atas lahan, hak pengelolaan lahan dan sumber daya, dsb), dimana aturan atau hukum pada awalnya tidak secara tertulis atau merupakan tradisi lisan yang kemudian di akhir abad pertengahan baru dicatat sebagai sebuah hukum lanskap (landscape law); lembaga yang membawahi aturan tersebut; serta masyarakat atau komunitas yang membuat dan menerapkan aturan tersebut. Sehingga istilah landschaft dinyatakan memiliki tiga dimensi yaitu:

  1. Suatu area/kawasan yang memiliki batas yang jelas dengan seluruh komponen fisik yang ada di dalam batas tersebut;
  2. Masyarakat yang menghuni kawasan tersebut;
  3. Aturan lokal, hukum adat dan lembaga yang dimiliki oleh masyarakat dan diterapkan dalam kawasan tersebut.

Adanya ketiga komponen tersebut kemudian menjadi identitas pada suatu wilayah. Dalam sejarah perkembangannya, istilah landschaft mengalami perubahan secara konseptual. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi pada masa-masa sesudah abad pertengahan di berbagai negara-negara Eropa (jaman rennaisance hingga revolusi industri). Sesudah paruh waktu abad ke-20, lanskap telah menjadi perhatian dari multi disiplin ilmu selain bidang geografi, seperti sejarah, arkeologi, ekologi, ilmu sosial, dsb, yang kemudian memunculkan studi lanskap yang bersifat interdisipliner dan transdisipliner, misalnya lanskap arkeologis, ekologi lanskap, sejarah lanskap, dsb.

Referensi

Olwig, K.R., 1996. Recovering the Substantive Nature of Landscape. Annals of the Association of American Geographers, 86(4), pp 630-653

Spek, T., 2014. Landscape concepts 2. Outline kuliah Introduction to Landscape History. University of Groningen-Netherlands