Keukenhof: perpaduan aspek budaya, sejarah, seni, dan ilmu pengetahuan dalam satu lanskap agrowisata

A river of flowers

A river of flowers

Keukenhof – berlokasi di Lisse, Provinsi South Holland, Belanda, adalah taman musim semi seluas 32 ha yang hanya dibuka 8 minggu dalam setahun. Meskipun pendek waktu operasionalnya dalam setahun, taman ini mampu menarik rata-rata 800.000 pengunjung, dan menjadi tujuan utama wisatawan ke Belanda di musim semi. Dengan beragam objek dan atraksi wisata yang ditampilkan secara dinamis setiap tahunnya, tak heran jika Keukenhof selalu dipenuhi pengunjung. Tahun ini ditargetkan Keukenhof akan dikunjungi oleh 1,250 juta orang. Tentunya keindahan visual susunan bunga tulip menjadi magnet utama. Namun Keukenhof sebenarnya tidak hanya sebatas “taman tulip”; tempat ini bukan sekedar taman rekreasi. Di balik rancangan lanskapnya, unsur budaya, sejarah, seni dan ilmu pengetahuan sangat kuat melatarbelakangi pengembangan lanskap taman ini.

Florikultura sebagai upaya adaptasi lingkungan

Langkap ladang tulip di sekitar Keukenhof

Lanskap ladang bunga di sekitar Keukenhof

Karakter lanskap Keukenhof dan area sekitarnya (membentang dari Leiden hingga Haarlem) – khususnya di Lisse, yang ada saat ini merupakan manifestasi interaksi antara manusia dengan lingkungannya dari waktu ke waktu. Dengan kondisi fisik tanahnya berpasir dan beriklim sesuai untuk budidaya bulb flowers, mereka kemudian memodifikasi lanskap untuk ladang floriculture; suatu bentuk adaptasi penduduk untuk menjadikan kawasan tersebut produktif sebagai sumber penghidupan. Praktek yang telah dijalankan dari genereasi ke generasi ini menjadikan budidaya bunga sebagai penggerak ekonomi utama penduduk Lisse dan sekitarnya, yang secara tidak langsung berdampak pada budaya setempat. Ladang bunga yang mendominasi kawasan dan infrastruktur kota untuk mendukung kelancaran produksi pun menjadi elemen pembentuk karakter fisik lanskap lokal. Perpaduan aspek budaya dan lingkungan fisik menjadikan kawasan ini dikenal sebagai pusat produksi bunga potong dan bulbs yang nilai ekspornya mendominasi pasar bunga potong dan bulbs dunia.

Aspek kesejarahan dalam tema tahunan

Meskipun taman beserta tradisi pamerannya ini secara resmi baru berusia 67 tahun, dimulai tahun 1949, namun lanskap kawasan ini memiliki sejarah panjang setidaknya sejak abad ke-15. Kastil Keukenhof, dibangun di awal abad ke-17, merupakan artefak arkeologis yang menjadi saksi transformasi lanskap yang panjang. Kastil yang kemudian menjadi museum ini merupakan salah satu obyek yang diintegrasikan dalam wisata Keukenhof.

Mozaic bunga tulip yans selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2013 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Mozaic bunga tulip yang selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2014 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip seukuran rumah yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Unsur kesejarahan, selain itu juga diaplikasikan melalui tema utama keukenhof yang selalu berubah setiap tahun, yang biasanya erat kaitannya dengan dimensi kesejarahan. Sebagai contoh tahun 2016 ini bertema “The Golden Age” dimana pada masa tersebut, yaitu di abad ke-17, Belanda mencapai jaman keemasan, dengan majunya perdagangan, seni, dan sains. Era ini juga menjadi puncak kejayaan perdagangan bunga tulip di Belanda yang menjadikan tulip melekat sebagai identitas negeri ini; padalah tulip aslinya dari Himalaya. Biasanya tema tahunan ini kemudian mendasari tema-tema di beberapa pavillium pameran dan juga dispaly mozaic bunga tulip. Dengan berbagai tema ini sebenarnya secara tidak langsung pengunjung diedukasi untuk mengenal beragam peristiwa budaya dan tokoh bersejarah. Sebagai gambaran, tema lain dalam empat tahun yang lalu yaitu Van Gogh (2015), Holland (2014), United Kingdom-Land of Great Gardens (2013), dan Poland-heart of Europe (2012).

Sajian seni dalam taman yang estetis

Rancangan lanskap dalam taman ini dibuat dengan cita rasa seni. Berbagai tema taman, mulai dari klasik, modern, formal, playful, romantic, adventurous, fantasy, grande, intimate; semuanya ditampilkan secara kreatif dengan mengkolaborasikan elemen dan prinsip desain melalui elemen taman yang didominasi oleh bunga. Transisi antar ruang menciptakan berbagai kejutan, mood dan rasa keingintahuan yang merupakan elemen psikologis yang berpengaruh terhadap pembentukan pengalaman pengunjung dan menentukan tingkat kepuasan berwisata. Tak heran jika pengunjung ingin datang lagi dan lagi untuk mengeksplorasi Keukenhof. Meskipun beberapa spot pada taman memiliki layout yang tetap, namun susunan warna dan temanya berubah setiap tahun. Berbagai tema tersebut diwujudkan pada taman-taman bergaya English Landscape garden, taman Jepang, taman kesejarahan, maze garden, meadow, taman alami, dan tujuh taman inspiratif.

beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik

Beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik (klik image untuk memperjelas tampilan)

Display artwork

Display artwork

Keukenhof juga berfungsi sebagai outdoor artwork gallery. Dengan konsep sculpture park, taman ini mendisplay sekitar 150an instalasi seni dimana setiap tahun berganti-ganti artis dan produk kreasinya. Artwork tersebut ditata sedemikian rupa sehingga menjadi elemen hardscape yang menyatu dengan elemen taman lainnya. Selain itu, berbagai program seni yang diselenggarakan sepanjang 8 minggu, seperti konser musik, workshop merangkai bunga dan fotografi, pameran kerajinan, menjadikan taman ini bukan sekedar arena pameran taman dan bunga, namun juga pagelaran seni.

Teknologi florikultura

Tentunya performa tulip dan bulbs flower lainnya dalam taman ini sangat merefleksikan aspek ilmu pengetahuan teknik budidaya bunga. Hal tersebut tidak hanya dapat diamati di dalam taman namun juga di ladang bunga sekitar taman yang dapat kita eksplore dengan menyewa sepeda, perahu, atau light flight. Ribuan kultivar tulip hasil persilangan yang didisplay indoor (dalam pavillium) maupun outdoor (di taman) tak hanya menunjukkan estetika tulip yang menawan tapi dibalik itu juga para breeder yang handal (PS: saya jadi merenungi nasib jurusan Teknologi Benih IPB yang kemudian dihapuskan dan dilebur dengan Jurusan Agronomi :’( ) ). Keberadaan museum tulip dalam kompleks taman juga menjadi salah satu sumber pengetahuan tentang sejarah tulip yang ternyata masuk ke Belanda melalui Turki.

education

Transfer of Knowledge : pameran indoor berbagai kultivar bunga dan berinteraksi dengan para gardener

Beberapa kultivar (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World's favourite-World's fire 9dari atas ke bawah)

Beberapa kultivar tulip (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World’s favourite-World’s fire (dari atas ke bawah)

Nampaknya keempat unsur yang telah mewarnai lanskap Keukenhof tersebut berhasil menjadikan tempat ini sebagai taman musim semi yang mengakomodir fungsi rekreasi, edukasi, sosial dan ekonomi untuk berbagai golongan usia dalam satu kawasan. Konsep ini bisa menjadi contoh pengembangan lanskap agrowisata yang integratif dan kreatif, sehingga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Tentunya kesuksesan Keukenhof sebagai kawasan wisata dicapai dengan perencanaan lanskap dan wisata serta implementasi yang matang dalam kerangka waktu yang panjang. Dan dibalik itu semua terdapat banyak stakeholder yang berkomitmen untuk mendukung keberlanjutannya. Mudah-mudahan suatu saat lanskap agrowisata yang dikembangkan dengan konsep mirip Keukenhof akan berkembang di Indonesia dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan khususnya untuk masyarakat lokal. Amin.

Seat back, relax, and enjoy the flowers

Sit back, relax, and enjoy the flowers

The cultural values of the landscape of Batik Giriloyo, a traditional industry of Yogyakarta

Batik is an art and craftsmanship which is a paragon of Indonesian cultural heritage. It is a traditional technique to decorate cloth which has been passed down from one generation to another for hundreds of years. On the island of Java Batik could formerly only be worn by Royal Families. Batik patterns were exquisitely designed and symbolized philosophical meanings which represented social status.

Due to its significance batik has been assigned the status of Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO on October 2, 2009. Afterwards the Indonesian government has designated 2 October as National Batik Day and has encouraged Indonesians to wear batik. The UNESCO recognition and government endorsement have given considerable influence to the Indonesian people on wearing batik garments and on having household items and handicrafts with batik design. This enthusiasm certainly have boosted the batik industry which today has become an important sector in the Indonesian economy. Furthermore, it has stimulated the re-emergence of traditional batik production centres in the country.

IMG-20151119-WA0006

An example of Batik Giriloyo using natural coloring material (picture credit: Tendy Satrio)

On Java, Yogyakarta is one of the primary batik production centres on the archipelago. There are several batik production areas in the region; one of them is in Wukirsari Village in Imogiri sub-district, which produce Batik, namely Giriloyo. Three main hamlets (dusun-s) are main producers in this village: Karangkulon, Giriloyo, and Cengkehan. Batik Giriloyo is manufactured by hand-drawn and stamped so the quality is different to Batik textile produced by machine. Recently the hamlets engage in tourism services alongside the batik production with batik and landscape as attractions. It seems that batik culture has been embedded in the landscape in a special way which causes Batik Giriloyo and its production area to be distinctive among batik production centres. This phenomenon will be explored by interpreting the various cultural values of the landscape of the hamlets.

History

The history of batik in the area was influenced by the establishment of the Imogiri graveyard – a cemetery of the Mataram kingdom’s Royal Families – in a hill near the hamlets in 1632. Sometime after the construction, the Mataram Yogyakarta King ordered the communities surrounding the graveyard to produce Batik for the Royal Families and the servants who guarded the cemetery. At that time the people assigned were only taught how to draw the pattern on the cloth. Although the palace later terminated the order they kept drawing and sold the pattern to the merchants in the city. They started to produce their own batik after several groups of batik drawers were trained in colouring batik through a disaster relief program. This program was undertaken after a 6.2 SR earth-quake hit Yogyakarta in 2006 which caused severe damage in the hamlets. The manufacture of Batik Giriloyo is a traditional industry which is currently performed by twelve groups of artisans in the three hamlets united in an organization which not only manages batik production but also tourism.

Making batik

The activity of making pattern and colouring batik by a group in a workshop area (picture credit: Batik Berkah Lestari, Karangkulon-Wukirsari)

Cultural values of landscape. An approach to understanding the potential range of values that might be present in landscape, namely Cultural Values Model, has been developed by Janet Stephenson. This concept perceives in a landscape three fundamental components: (1) forms which are related to tangible elements, (2) practices/processes and (3) relationships which include intangible elements. Natural and artificial forms in the landscape of the area are hills, river, rice fields, woodlands and forests, settlements connected by roads, workshops and showroom buildings, the kings’ cemetery, religious buildings, and tourism facilities. The main practices and processes in the landscape include the knowledge and practice of manufacturing Batik, governance of organization, agricultural activities, religious festivals, tourism, earthquakes and landslides. The relationships component consists of the King’s cemetery’s history along with stories and myths, the history of Batik and sense and scenery of the rural landscape.

Imogiri

The stairway to reach the Imogiri Royal Cemetery (picture credit: jogjaheritagewalk.com)

Tourism

Tourism facilities in Javanese architectural style with hilly landscape on the background (picture credit: Lisa Virgiano)

Human-landscape interaction

These three components which basically influence each other can be applied to interpret the interaction of landscape and inhabitants. The hilly topography composed mainly of rocky soils is certainly not suitable for agriculture. Although there are farmers in the hamlets, only a few number who have rice fields while the rest preferring to hire themselves out as labourers. Making batik is therefore a good alternative for livelihood. Instead of rice fields the landscape of the three hamlets predominantly comprised of forest and woodland which form a buffer around the king’s cemetery. This land use is suitable for the landscape because vegetation minimizes run-off reducing the risk of landslides. Unlike heavy industry which involves special structures and buildings for production which occupy a large site, the manufacture of Batik Giriloyo is a domestic industry which can be executed in a small space by engaging in un-intensive activities. Thus, space limitation and fragile landscape pose no problems for the industry.

Conclusion

Although Batik making commenced at the King’s order instead of beginning as a response by inhabitants to the landscape conditions, this intangible element has to some extent affected the landscape. The Batik Giriloyo industry has indeed shaped the identity of the area. The land use of this activity is suitable for a low carrying-capacity landscape; therefore it supports the sustainability of the landscape and subsequently the conservation of the historical landscape of the King’s cemetery. Finally, this traditional industry has contributed to the preservation of Indonesian cultural heritage by putting the knowledge into practise.

Note: This article has been published in the Bulletin of The International Committee for the Conservation of Industrial Heritage, No. 70, 4th quarter, 2015. Many thanks to Ibu Hasti Tarekat for the opportunity to write down an article of industrial heritage, and Catherine Lee and Bernadette Lee for the proof reading and comments.