Partisipasi publik untuk keberlanjutan lanskap

Poster CHeriScape

Poster title: Saving the landscape as hritage: a joint responsibility

Awal bulan Juli lalu saya mengikuti konferensi pertama CHeriScape: Cultural Heritage in Landscape, sebuah jaringan antar negara-negara Eropa dengan lima negara inti yaitu: Belgia, Belanda, Inggris Raya, Norwegia dan Spanyol. Jaringan ini mencoba untuk mengungkap hubungan antara lanskap dan heritage dari berbagai sudut pandang. Inisiatif ini untuk mendukung upaya Council of Europe, melalui European Landscape Convention, dalam menjaga keberagaman lanskap di daratan Eropa.  Dalam agendanya, konferensi CHeriScape akan diselenggarakan lima kali di kelima negara tersebut. Untuk informasi lengkap tentang jaringan ini dapat dilihat di http://www.cheriscape.ugent.be/)

Konferensi pertama, yang diadakan di Ghent-Belgia pada 1-2 Juli 2014, bertemakan “Landscape as Heritage in Policy”. Bersama dua rekan dari Universitas Groningen (Bernadette Lee-arkeolog dan Catherine Lee- sejarahwan lanskap), kami mempresentasikan poster “Saving the landscape as heritage: a joint responsibility”. Isi posternya merupakan hasil studi kasus dari 3 program pelestarian lanskap yang dengan penggagas yang berbeda, yaitu dari (1) komunitas yang dimotori sekelompok orang yang bertujuan menjaga nilai sejarah lingkungan tempat tinggal (kasus Aduard-Belanda) yang kemudian mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah setempat dan akhirnya didukung pula oleh Uni-Eropa; (2) akademisi (arkeolog) dengan melibatkan komunitas untuk mendukung upaya inventarisasi/penelusuran benda arkelologis pada suatu kawasan (kasus Carnfield University-UK); dan (3) pemerintah yang bekerja sama dengan akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk menggali sejarah lanskap setempat dan mengaplikasikannya untuk pengembangan lanskap di masa mendatang serta program-program komunitas lainnya dengan pendekatan partisipasi publik sehingga tercipta sense of community pada lanskap tersebut (kasus Drentsche Aa-Belanda).

Dari ketiga kasus tersebut, terlihat bahwa masyarakat, sebagai agen perubahan dalam lanskap, potensial untuk dilibatkan dalam upaya menjaga keberlanjutan lanskap. Bahkan masyarakat semakin merasa memiliki ikatan yang kuat dengan lanskap (place attachment) setelah mereka mengetahui lebih mendalam tentang sejarah lanskap dimana mereka tinggal sehingga rasa memiliki terhadap lanskap dimana ia tinggal meningkat (sense of belonging). Untuk itu, direkomendasikan agar pemerintah membuat kebijakan dimana pengetahuan tentang lanskap, baik yang bersifat umum maupun lokal, perlu diintegrasikan kedalam beberapa mata pelajaran di tingkat pendidikan dasar (SD-SMA) yang relevan, seperti misalnya geografi dan sejarah. Dengan demikian diharapkan masyarakat memahami bahwa lanskap merupakan sebuah material yang diwariskan (dengan berbagai nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap tsb). Sehingga diharapkan masyarakat menyadari bahwa bukan hanya pemerintah yang bertanggungjawab menjaga lanskap, namun juga masyarakat pun berperan untuk melestarikannya.

Melihat kenyataan bahwa di negara-negara Barat (Eropa) yang sudah lebih maju dalam pemahaman dan program terkait lanskap memiliki perhatian yang tinggi terhadap lanskap yang dipandang sebagai suatu warisan budaya (heritage), maka perlu kita cermati keberlanjutan lanskap di negara kita. Indonesia yang kaya akan berbagai jenis lanskap, baik yang masih alami maupun produk budaya (tradisional)   masyarakat setempat,saat ini mengalami transformasi yang sangat cepat. Hendak dibawa kemana lanskap kita? Apakah akan meng-copy kota Jakarta (yang selama ini menjadi trendsetter daerah lain) atau kota-kota di negara barat lainnya? Ataukah kita (atau lebih tepatnya masyarakat setempat) akan menggali dan melestarikan karakter lanskap lokal yang dipadu dengan intervensi budaya kontemporer sehingga lanskap mereka punya identitas dan unik?