Kampong as an urban landscape feature in Banjarmasin (South-Kalimantan, Indonesia) from the past until present

Kampongs (kampung-s in Bahasa) have contributed in shaping the socio-spatial structure of the early Banjarmasin landscape. Kampongs, which formerly were known as the lowest unit of area organized under the Banjarmasin sultanate authority (16- 19th centuries), in fact, have persisted in the city until today, although the landscape of kampongs has experienced several changes over time. The objectives of this study are twofold: first, to analyse the transformation of the kampong from pre-colonial, colonial, and post-colonial periods, by exploring its physical and cultural landscape elements; second, to examine the interactions of these elements to understand the processes which have promoted these changes.

Kampung Kenanga Banjarmasin

Kampung Kenanga Banjarmasin

Catatan: Abstrak material presentasi pada Kenniscentrum Landschap Symposium, Groningen, 20 April 2016

Keukenhof: perpaduan aspek budaya, sejarah, seni, dan ilmu pengetahuan dalam satu lanskap agrowisata

A river of flowers

A river of flowers

Keukenhof – berlokasi di Lisse, Provinsi South Holland, Belanda, adalah taman musim semi seluas 32 ha yang hanya dibuka 8 minggu dalam setahun. Meskipun pendek waktu operasionalnya dalam setahun, taman ini mampu menarik rata-rata 800.000 pengunjung, dan menjadi tujuan utama wisatawan ke Belanda di musim semi. Dengan beragam objek dan atraksi wisata yang ditampilkan secara dinamis setiap tahunnya, tak heran jika Keukenhof selalu dipenuhi pengunjung. Tahun ini ditargetkan Keukenhof akan dikunjungi oleh 1,250 juta orang. Tentunya keindahan visual susunan bunga tulip menjadi magnet utama. Namun Keukenhof sebenarnya tidak hanya sebatas “taman tulip”; tempat ini bukan sekedar taman rekreasi. Di balik rancangan lanskapnya, unsur budaya, sejarah, seni dan ilmu pengetahuan sangat kuat melatarbelakangi pengembangan lanskap taman ini.

Florikultura sebagai upaya adaptasi lingkungan

Langkap ladang tulip di sekitar Keukenhof

Lanskap ladang bunga di sekitar Keukenhof

Karakter lanskap Keukenhof dan area sekitarnya (membentang dari Leiden hingga Haarlem) – khususnya di Lisse, yang ada saat ini merupakan manifestasi interaksi antara manusia dengan lingkungannya dari waktu ke waktu. Dengan kondisi fisik tanahnya berpasir dan beriklim sesuai untuk budidaya bulb flowers, mereka kemudian memodifikasi lanskap untuk ladang floriculture; suatu bentuk adaptasi penduduk untuk menjadikan kawasan tersebut produktif sebagai sumber penghidupan. Praktek yang telah dijalankan dari genereasi ke generasi ini menjadikan budidaya bunga sebagai penggerak ekonomi utama penduduk Lisse dan sekitarnya, yang secara tidak langsung berdampak pada budaya setempat. Ladang bunga yang mendominasi kawasan dan infrastruktur kota untuk mendukung kelancaran produksi pun menjadi elemen pembentuk karakter fisik lanskap lokal. Perpaduan aspek budaya dan lingkungan fisik menjadikan kawasan ini dikenal sebagai pusat produksi bunga potong dan bulbs yang nilai ekspornya mendominasi pasar bunga potong dan bulbs dunia.

Aspek kesejarahan dalam tema tahunan

Meskipun taman beserta tradisi pamerannya ini secara resmi baru berusia 67 tahun, dimulai tahun 1949, namun lanskap kawasan ini memiliki sejarah panjang setidaknya sejak abad ke-15. Kastil Keukenhof, dibangun di awal abad ke-17, merupakan artefak arkeologis yang menjadi saksi transformasi lanskap yang panjang. Kastil yang kemudian menjadi museum ini merupakan salah satu obyek yang diintegrasikan dalam wisata Keukenhof.

Mozaic bunga tulip yans selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2013 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Mozaic bunga tulip yang selalu terkait dengan tema tahunan. Foto di atas mozaic tahun 2014 (tema: Holland) berupa rumah khas Belanda dan bunga tulip seukuran rumah yang menyimbolkan bahwa di abad 17 pernah terjadi harga bunga tulip setara dengan harga satu rumah.

Unsur kesejarahan, selain itu juga diaplikasikan melalui tema utama keukenhof yang selalu berubah setiap tahun, yang biasanya erat kaitannya dengan dimensi kesejarahan. Sebagai contoh tahun 2016 ini bertema “The Golden Age” dimana pada masa tersebut, yaitu di abad ke-17, Belanda mencapai jaman keemasan, dengan majunya perdagangan, seni, dan sains. Era ini juga menjadi puncak kejayaan perdagangan bunga tulip di Belanda yang menjadikan tulip melekat sebagai identitas negeri ini; padalah tulip aslinya dari Himalaya. Biasanya tema tahunan ini kemudian mendasari tema-tema di beberapa pavillium pameran dan juga dispaly mozaic bunga tulip. Dengan berbagai tema ini sebenarnya secara tidak langsung pengunjung diedukasi untuk mengenal beragam peristiwa budaya dan tokoh bersejarah. Sebagai gambaran, tema lain dalam empat tahun yang lalu yaitu Van Gogh (2015), Holland (2014), United Kingdom-Land of Great Gardens (2013), dan Poland-heart of Europe (2012).

Sajian seni dalam taman yang estetis

Rancangan lanskap dalam taman ini dibuat dengan cita rasa seni. Berbagai tema taman, mulai dari klasik, modern, formal, playful, romantic, adventurous, fantasy, grande, intimate; semuanya ditampilkan secara kreatif dengan mengkolaborasikan elemen dan prinsip desain melalui elemen taman yang didominasi oleh bunga. Transisi antar ruang menciptakan berbagai kejutan, mood dan rasa keingintahuan yang merupakan elemen psikologis yang berpengaruh terhadap pembentukan pengalaman pengunjung dan menentukan tingkat kepuasan berwisata. Tak heran jika pengunjung ingin datang lagi dan lagi untuk mengeksplorasi Keukenhof. Meskipun beberapa spot pada taman memiliki layout yang tetap, namun susunan warna dan temanya berubah setiap tahun. Berbagai tema tersebut diwujudkan pada taman-taman bergaya English Landscape garden, taman Jepang, taman kesejarahan, maze garden, meadow, taman alami, dan tujuh taman inspiratif.

beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik

Beberapa contoh program seni: bazaar kerajinan, workshop merangkai bunga, dan pagelaran musik (klik image untuk memperjelas tampilan)

Display artwork

Display artwork

Keukenhof juga berfungsi sebagai outdoor artwork gallery. Dengan konsep sculpture park, taman ini mendisplay sekitar 150an instalasi seni dimana setiap tahun berganti-ganti artis dan produk kreasinya. Artwork tersebut ditata sedemikian rupa sehingga menjadi elemen hardscape yang menyatu dengan elemen taman lainnya. Selain itu, berbagai program seni yang diselenggarakan sepanjang 8 minggu, seperti konser musik, workshop merangkai bunga dan fotografi, pameran kerajinan, menjadikan taman ini bukan sekedar arena pameran taman dan bunga, namun juga pagelaran seni.

Teknologi florikultura

Tentunya performa tulip dan bulbs flower lainnya dalam taman ini sangat merefleksikan aspek ilmu pengetahuan teknik budidaya bunga. Hal tersebut tidak hanya dapat diamati di dalam taman namun juga di ladang bunga sekitar taman yang dapat kita eksplore dengan menyewa sepeda, perahu, atau light flight. Ribuan kultivar tulip hasil persilangan yang didisplay indoor (dalam pavillium) maupun outdoor (di taman) tak hanya menunjukkan estetika tulip yang menawan tapi dibalik itu juga para breeder yang handal (PS: saya jadi merenungi nasib jurusan Teknologi Benih IPB yang kemudian dihapuskan dan dilebur dengan Jurusan Agronomi :’( ) ). Keberadaan museum tulip dalam kompleks taman juga menjadi salah satu sumber pengetahuan tentang sejarah tulip yang ternyata masuk ke Belanda melalui Turki.

education

Transfer of Knowledge : pameran indoor berbagai kultivar bunga dan berinteraksi dengan para gardener

Beberapa kultivar (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World's favourite-World's fire 9dari atas ke bawah)

Beberapa kultivar tulip (dari kiri ke kanan): Leo, Happy generation, World peace-World’s favourite-World’s fire (dari atas ke bawah)

Nampaknya keempat unsur yang telah mewarnai lanskap Keukenhof tersebut berhasil menjadikan tempat ini sebagai taman musim semi yang mengakomodir fungsi rekreasi, edukasi, sosial dan ekonomi untuk berbagai golongan usia dalam satu kawasan. Konsep ini bisa menjadi contoh pengembangan lanskap agrowisata yang integratif dan kreatif, sehingga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Tentunya kesuksesan Keukenhof sebagai kawasan wisata dicapai dengan perencanaan lanskap dan wisata serta implementasi yang matang dalam kerangka waktu yang panjang. Dan dibalik itu semua terdapat banyak stakeholder yang berkomitmen untuk mendukung keberlanjutannya. Mudah-mudahan suatu saat lanskap agrowisata yang dikembangkan dengan konsep mirip Keukenhof akan berkembang di Indonesia dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan khususnya untuk masyarakat lokal. Amin.

Seat back, relax, and enjoy the flowers

Sit back, relax, and enjoy the flowers

The cultural values of the landscape of Batik Giriloyo, a traditional industry of Yogyakarta

Batik is an art and craftsmanship which is a paragon of Indonesian cultural heritage. It is a traditional technique to decorate cloth which has been passed down from one generation to another for hundreds of years. On the island of Java Batik could formerly only be worn by Royal Families. Batik patterns were exquisitely designed and symbolized philosophical meanings which represented social status.

Due to its significance batik has been assigned the status of Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO on October 2, 2009. Afterwards the Indonesian government has designated 2 October as National Batik Day and has encouraged Indonesians to wear batik. The UNESCO recognition and government endorsement have given considerable influence to the Indonesian people on wearing batik garments and on having household items and handicrafts with batik design. This enthusiasm certainly have boosted the batik industry which today has become an important sector in the Indonesian economy. Furthermore, it has stimulated the re-emergence of traditional batik production centres in the country.

IMG-20151119-WA0006

An example of Batik Giriloyo using natural coloring material (picture credit: Tendy Satrio)

On Java, Yogyakarta is one of the primary batik production centres on the archipelago. There are several batik production areas in the region; one of them is in Wukirsari Village in Imogiri sub-district, which produce Batik, namely Giriloyo. Three main hamlets (dusun-s) are main producers in this village: Karangkulon, Giriloyo, and Cengkehan. Batik Giriloyo is manufactured by hand-drawn and stamped so the quality is different to Batik textile produced by machine. Recently the hamlets engage in tourism services alongside the batik production with batik and landscape as attractions. It seems that batik culture has been embedded in the landscape in a special way which causes Batik Giriloyo and its production area to be distinctive among batik production centres. This phenomenon will be explored by interpreting the various cultural values of the landscape of the hamlets.

History

The history of batik in the area was influenced by the establishment of the Imogiri graveyard – a cemetery of the Mataram kingdom’s Royal Families – in a hill near the hamlets in 1632. Sometime after the construction, the Mataram Yogyakarta King ordered the communities surrounding the graveyard to produce Batik for the Royal Families and the servants who guarded the cemetery. At that time the people assigned were only taught how to draw the pattern on the cloth. Although the palace later terminated the order they kept drawing and sold the pattern to the merchants in the city. They started to produce their own batik after several groups of batik drawers were trained in colouring batik through a disaster relief program. This program was undertaken after a 6.2 SR earth-quake hit Yogyakarta in 2006 which caused severe damage in the hamlets. The manufacture of Batik Giriloyo is a traditional industry which is currently performed by twelve groups of artisans in the three hamlets united in an organization which not only manages batik production but also tourism.

Making batik

The activity of making pattern and colouring batik by a group in a workshop area (picture credit: Batik Berkah Lestari, Karangkulon-Wukirsari)

Cultural values of landscape. An approach to understanding the potential range of values that might be present in landscape, namely Cultural Values Model, has been developed by Janet Stephenson. This concept perceives in a landscape three fundamental components: (1) forms which are related to tangible elements, (2) practices/processes and (3) relationships which include intangible elements. Natural and artificial forms in the landscape of the area are hills, river, rice fields, woodlands and forests, settlements connected by roads, workshops and showroom buildings, the kings’ cemetery, religious buildings, and tourism facilities. The main practices and processes in the landscape include the knowledge and practice of manufacturing Batik, governance of organization, agricultural activities, religious festivals, tourism, earthquakes and landslides. The relationships component consists of the King’s cemetery’s history along with stories and myths, the history of Batik and sense and scenery of the rural landscape.

Imogiri

The stairway to reach the Imogiri Royal Cemetery (picture credit: jogjaheritagewalk.com)

Tourism

Tourism facilities in Javanese architectural style with hilly landscape on the background (picture credit: Lisa Virgiano)

Human-landscape interaction

These three components which basically influence each other can be applied to interpret the interaction of landscape and inhabitants. The hilly topography composed mainly of rocky soils is certainly not suitable for agriculture. Although there are farmers in the hamlets, only a few number who have rice fields while the rest preferring to hire themselves out as labourers. Making batik is therefore a good alternative for livelihood. Instead of rice fields the landscape of the three hamlets predominantly comprised of forest and woodland which form a buffer around the king’s cemetery. This land use is suitable for the landscape because vegetation minimizes run-off reducing the risk of landslides. Unlike heavy industry which involves special structures and buildings for production which occupy a large site, the manufacture of Batik Giriloyo is a domestic industry which can be executed in a small space by engaging in un-intensive activities. Thus, space limitation and fragile landscape pose no problems for the industry.

Conclusion

Although Batik making commenced at the King’s order instead of beginning as a response by inhabitants to the landscape conditions, this intangible element has to some extent affected the landscape. The Batik Giriloyo industry has indeed shaped the identity of the area. The land use of this activity is suitable for a low carrying-capacity landscape; therefore it supports the sustainability of the landscape and subsequently the conservation of the historical landscape of the King’s cemetery. Finally, this traditional industry has contributed to the preservation of Indonesian cultural heritage by putting the knowledge into practise.

Note: This article has been published in the Bulletin of The International Committee for the Conservation of Industrial Heritage, No. 70, 4th quarter, 2015 (Download the article). Many thanks to Ibu Hasti Tarekat for the opportunity to write down an article of industrial heritage, and Catherine Lee and Bernadette Lee for the proof reading and comments.

Perjalanan ke Maastricht dan seminar industrial heritage

Tanggal 11 Oktober yang lalu saya berkesempatan mengikuti seminar di Maastricht bertema “Cultural dynamics of former mining regions: perspectives for the 2020s” yang diselenggarakan di Maastricht Centre for Arts and Culture Conservation and Heritage, Maastricht University. Maastricht adalah ibukota Propinsi Limburg yang teletak di ujung selatan Belanda, sementara Groningen, ibukota Propinsi Groningen, ada di ujung utara. Perlu waktu 4 jam untuk menuju Maastricht dengan kereta antar kota. Tiba di Amsterdam, saya berangkat dengan Ibu Hasti Tarekat, seorang penggiat heritage dari Indonesia yang menetap di Amsterdam.

Sekilas Maastricht
Beruntung kami tiba lebih awal jadi ada waktu untuk menjelajahi sebagian kecil dari pusat kota (disebut centrum atau binnenstad). Kami mampir sebentar ke river promenade di bantaran Sungai Meuse sebelum menuju centrum. Centrumnya unik, sebagaimana kota-kota di Belanda (dan Eropa umumnya), dulunya ada dalam benteng dan beberapa bagian benteng kotanya yang dibangun di periode medieval, masih tersisa. Benteng ini, meski tidak utuh terlihat menarik, menjadi elemen fisik (sejarah) kota. Landform kota ini agak berbukit-bukit, karena Maastrich ada di lembah, berbeda dengan bagian tengah dan utara Belanda yang ada di dataran flat.

fortress

Bagian benteng kota

Seperti halnya kebanyakan kota di Belanda pada khususnya dan negara-negara Eropa umumnya, banyak bangunan-bangunan tua disini, setidaknya di bangun sejak abad 17 (bahkan sebelumnya) yang masih bertahan dan dimanfaatkan kembali (reuse) seperti misalnya untuk kantor, hotel, restaurant, pertokoan, dan hunian. Beberapa bangunan diberi tanda ‘blue shield’ yang menandakan bangunan tersebut terdaftar sebagai monumen yang dilindungi dan diselamatkan dari bencana alam maupun yang disebabkan manusia, misalnya perang dan kebakaran (info lengkap blue shield ada di SINI). Universitas Maastricht sendiri -beberapa jurusan seperti Arts, humanities, dan sosial science- juga ada di pusat kota, beberapa diantaranya menempati bangunan-bangunan tua. Oya, Propinsi Limburg bagian selatan dulunya dikenal sebagai daerah tambang batubara sejak abad 16 dan baru ditutup di abad ke-20, jadi propinsi ini memiliki banyak industrial heritage. Info sejarah kota Maastricht dapat dilihat di SINI

Old_buildings

Tanda ‘blue shield’ dan bangunan tua yang dimanfaatkan untuk restaurant

2 jam – 4 pembicara
Seminar diadakan di gedung Jan van Eyck Academy, dimulai tepat jam 14.00. Setelah seminar dibuka –secara sederhana dengan pidato yang singkat dan padat- pembicara pertama yaitu Prof. dr. Ad Knotter dari Sociaal Historisch Centrum voor Limburg mempresentasikan beberapa hasil riset yang dirangkum dalam The four coal mining districts in the Meuse-Rhine borderlands: so close to each other, yet so different. Secara gasir besar beliau memaparkan beberapa kondisi sosial dalam industri pertambangan dari 4 kota di Liege, Aachen dan Limburg. Beberapa aspek yang dianalisis dengan pendekatan kuantitatif misalnya perkembangan industri tambang, modal dan kepemilikan, serta migrasi penambang. Pembicara kedua, yaitu Dr. Marijn van de Weijer dari Faculty of Architecture and Art, Hasselt University-Belgia, menyampaikan tema Re-using built structures: confrontations between the fields of conservation, (regional) planning and design. Selain menjelaskan beberapa teori terkait konservasi cultural heritage, juga dipaparkan beberapa proyek yang telah dikerjakan sebagai contoh.

Pembicara ketiga, yaitu Lidy perwakilan dari IBA Parkstad, membawakan IBA-Parkstad-Challenges and projects for Euregio. IBA, kepanjangan dari Internationale BauAusstellung or International Building Exibition, merupakan sebuah pendekatan dalam merencanakan dan mengelola suatu kawasan. Pendekatan yang berkembang di Jerman ini sudah diterapkan di beberap kota di Jerman, dan untuk pertama kalinya diaplikasikan di Belanda untuk kawasan yang meliputi kota-kota bekas tambang yaitu: Heerlen, Kerkrade, Landgraaf, Brunssum, Voerendaal, Simpelveld, Nuth and Onderbanken di Propinsi Limburg. Yang menarik dari pendekatan ini yaitu aspek yang direncanakan tidak hanya lingkungan fisik namun juga non-fisik, yaitu mind set dan budaya penduduk kota. Info lebih jauh tentang IBA-Parkstad dapat dilihati di SINI . Sementara itu pembicara terakhir, yaitu Dr Marion Fontaine, dari Centre Norbert Elias, Universite d’Avignon, menyajikan From the industrial artefacts to the values? The intangible heritage in the case of the mining world. Beliau lebih menonjolkan aspek intangible yang potensial pada suatu industrial heritage, seperti cerita, lagu-lagu, festival, dan bahkan tata cara penambang dulu bekerja.

Seminar session

Suasana seminar

Menurut saya keempat materi yang disampaikan menarik, karena industrial heritage adalah hal baru bagi saya. Dalam badan dunia, industrial heritage ada di bawah koordinasi ICOMOS, dimana bidang ini menjadi bagian dari cultural heritage. Organisasi dunia yang terkait dengan industrial heritage yaitu The International Committee for the Conservation of the Industrial Heritage (TICCIH). Berdasarkan The Nizhny Tagil Charter for the Industrial heritage tahun 2003 dinyatakan bahwa:

Industrial heritage consists of the remains of industrial culture which are of historical, technological, social, architectural or scientific value. These remains consist of buildings and machinery, workshops, mills and factories, mines and sites for processing and refining, warehouses and stores, places where energy is generated, transmitted and used, transport and all its infrastructure, as well as places used for social activities related to industry such as housing, religious worship or education.

Jika kita simak definisi tersebut, sepertinya bidang ini lebih condong ke elemen fisik bagian dari suatu kegiatan industri.  Namun jika kita baca pada bagian “Values of industrial heritage” pada piagam ini, maka kita akan temukan bahwa elemen intangible merupakan nilai penting yang melekat pada elemen fisik/tangible tersebut. Selain itu, definisi ini juga lebih fokus pada kegiatan industri di masa lalu, dan pada beberapa sumber disebutkan teruama pada kegiatan industri yang muncul karena pengaruh industrialisasi, dimana pada di banyak belahan dunia dipicu oleh revolusi industri. Padalah di banyak tempat, bisa jadi industri sudah tumbuh sebelum revolusi industri, meski masih bersifat tradisional. Selain itu, tak jarang industri tersebut masih beroperasi hingga sekarang. Biasanya industri-industri berskala kecil dan tradisional seperti wayang, kain tradisional (songket, tenun, batik) bertahan lama karena diturunkan dari generasi ke generasi.

Di Indonesia sendiri saya yakin banyak sekali industrial heritage, yang modern maupun yang tradisonal, baik yang masih aktif –seperti perkebunan teh, pabrik gula, tambang tradisional intan dan timah; maupun yang sudah mati, seperti tambang-tambang batu bara di Kalimantan dan pelabuhan tua di berbagai kota pesisir. Masalahnya adalah kita terkadang tidak melihat industri tersebut sebagai heritage yang potensial diikembangkan untuk mendapatkan nilai lebih. Nilai lebih ini tidak melulu bersifat ekonomis, walaupun nantinya memang bisa dikemas untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Lebih dari itu yang terpenting adalah agar heritage tersebut lestari, sebagai bagian dari sejarah budaya dan kehidupan lokal – saksi bisu perubahan lanskap daerah setempat jika berupa elemen fisik; dan rantai penghubung antara generasi di masa lalu dengan masa sekarang bahkan masa depan, bila heritage tersebut intangible.

Terkait dengan lanskap, semua kegiatan industri dalam berbagai skala dilakukan pada suatu area, jadi lanskap adalah wadahnya. Dalam kondisi tertentu bahkan industrial heritage ini dapat membentuk identitas lanskap karena menjadi elemen dominan yang kemudian mempengaruhi karakter lanskap setempat. Arsitek lanskap semestinya bisa berperan dalam pengembangan industrial heritage, misalnya melalui perencanaan dan rancangan kawasan atau melakukan studi dari sudut pandang lanskap. Semoga nantinya industrial heritage di tanah air menjadi lebih terpelihara dan aristek lanskap terlibat didalamnya.

Meet the locals
Setelah seminar berakhir sekitar jam 18.00 kami memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum pulang (Catatan: jam 18.00 adalah saatnya makan malam di Belanda). Bersama Lidy, yang ternyata orang Limburg, kami mencoba cafe setempat –De Tribunaal- tidak jauh dari tempat seminar. Menurut Lidy kalau kami mau lebih tahu tentang orang-orang setempat sebaiknya berkunjung ke tempat ‘hang out’ yang populer disana. Café itu sangat penuh dengan pengunjung, sampai2 mereka berdiri sambil minum dan ngobrol dan kami berbagi meja dengan 2 pengunjung yang sedang main kartu :D. Ternyata café itu salah satu tempat warga Maastricht bersosialisasi. Bisa dibilang kebanyakan pengunjung adalah orang-orang dewasa dan tua. Yang serunya lagi, saat itu ada jazz live performance. Jadi kebayang kami bertiga (dan juga pengunjung lain) harus bicara dengan volume keras bersaing dengan musik. Yang unik, pengunjung boleh makan kacang yang disajikan di meja -tanpa wadah- dan boleh membuang kulitnya di bawah meja (wah!).

Ruang-ruang terbuka di centrum

Ruang-ruang terbuka di centrum

Tak berapa lama kami beranjak mencari tempat makan malam, kami pergi ke Café Sjiek. Café ini juga penuh pengunjung, untungnya ada beberapa kursi kosong, itupun di meja bar yang sempit. Berbeda dengan De Tribunaal, di restaurant ini ada anak-anak, orang tua, hingga opa-oma. Karena ingin mencicipi makanan khas Maastricht, saya disarankan memesan Zoervleis, yang menurut saya seperti semur daging hanya saja agak asam. Belakangan baru kami tahu kalau café ini masuk dalam daftar Michelin guide 2015, pantas saja ramai karena menunya mantap dan harganya terjangkau (terutama buat mahasiswa :-D).

Baiklah, setelah perut kenyang, kami pulang, lewat Amsterdam saya lanjutkan perjalanan ke Groningen. Untungnya ini malam Senin, jadi walaupun menjelang tengah
malam, kereta penuh dengan mahasiswa Unversitas Groningen dan Hanze Hogheschool yang hendak kembali ke kost-kostannya di Groningen. Alhamdulillah, jadi pulang tidak sendirian dan aman :-)

Links:

Maastricht: https://en.wikipedia.org/wiki/Maastricht

Blue shield: http://www.ancbs.org/cms/en/about-us/about-icbs

IBA-Parkstad: http://www.iba-parkstad.nl/en/

Industrial heritage: http://www.icomos.org/18thapril/2006/nizhny-tagil-charter-e.pdf

TICCIH: http://ticcih.org/

We are the landscape: upaya menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang lanskap

We are the landscape

We are the landscape

We are the landscape adalah judul sebuah buku yang diterbitkan oleh RECEP–ENELC (European Network of Local and Regional Authorities for the Implementation of the European Landscape Convention), sebuah jaringan yang beranggotakan 31 badan otoritas regional maupun lokal dari negara-negara di Eropa. Buku ini diterbitkan sebagai upaya untuk mendiseminasi konvensi lanskap Eropa (European Landscape Convention) – sebuah konvensi internasional untuk menjaga keberlanjutan lanskap di Benua Eropa-, dan mengedukasi masyarakat, khususnya kaum muda dan awam, untuk memahami lanskap, dengan menggunakan bahasa yang sederhana. Tujuannya tentunya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lanskap bagi kehidupan, yang secara tidak langsung akan mensukseskan tujuan dari ELC yaitu agar semua pihak menjaga kelestarian dan keragaman lanskap. Buku ini menjelaskan hal mendasar seperti bagaimana mendefinisikan dan memahami lanskap, mengapa lanskap penting bagi manusia, apa peran manusia bagi lanskap, baik peran yang mendukung ataupun potensial merusak lanskap.

Yang menarik dari buku ini adalah judul ‘We are the landscape’. Mengapa kita adalah lanskap? Di halaman 11 ditulis: “Landscape is, in effect, the result of man’s interventions and the course of nature, but also the product of our perception. Landscape exists only in the moment when it is observed and experienced”. Sehingga suatu lanskap terbentuk karena manusia memaknainya (perceive the landscape); dan makna tersebut bisa jadi berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, apa kira-kira makna Kebun Raya Bogor (KRB) sebagai sebuah lanskap, bagi masyarakat? Sebagian ada yang mempersepsikan KRB sebagai tempat konservasi ex-situ flora Indonesia yang penting di dunia; ada juga yang memaknainya sebagai suatau lanskap kesejarahan, sebagian lagi menganggapnya sebagai tempat rekreasi, sebagai tempat mencari nafkah, sebagai tempat pacaran atau ngumpul-ngumpul, dan bahkan ada juga yang tidak punya persepsi apapun dan tidak menganggap KRB ada dalam hidupnya karena dia tidak mengenal KRB. Disini kita lihat, lanskap KRB ada karena ada individu ataupun kelompok yang memberinya makna atau persepsi. Terlepas dari terciptanya makna tadi karena aspek visual, ekologis, budaya, ekonomi, emosi, dsb. Lanskap KRB ada karena intervensi manusia dalam lingkungan tsb, baik intervensi secara fisik maupun persepsi yang diberikan.

Lebih lanjut dinyatakan: “Landscape is a fundamental element of individual and collective well-being, and a well-looked after landscape is an indication of civilization” (p 20). Hal ini menunjukkan kualitas suatu lanskap mengindikasikan peradaban masyarakat yang mendiaminya atau yang memaknainya. Lanskap dengan kualitas yang baik (lestari, keanekaragaman hayati yang tinggi, bebas banjir, nyaman, asri dsb) mencerminkan masyarakatnya yang ‘beradab’, karena mereka mampu menjaga lanskap tsb. Meskipun negara-negara Eropa menganut paham sekuler dalam tatanan masyarakat dan bernegara, pemahaman ini sejalan dengan semua agama dan kepercayaan yang mengajarkan adab yang baik, salah satunya dengan tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Situasi ini menandakan menjaga lanskap agar berkelanjutan merupakan nilai universal yang semestinya ditanamkan pada setiap insan, karena lanskap adalah kita dan kita adalah lanskap.

Tatanan lanskap mencerminkan peradaban masyarakatnya

Tatanan lanskap mencerminkan peradaban masyarakatnya

Meskipun buku ini ditujukan khususnya untuk masyarakat Eropa dan penulis menyampaikan lanskap dari sudut pandang konteks Eropa, namun buku ini patut untuk kita (masyarakat Indonesia) telaah, baik dari segi substansi isi buku maupun dari segi inisiatif penerbitan buku ini: untuk melindungi lanskap (di Indonesia) dari kerusakan. Tentunya saya tidak akan meringkas isi buku ini, dan bagi yang tertarik untuk membaca versi online dapat diakses di LINK ini. Atau dapat juga mengirim email ke info@recep-enelc.net atau email ke saya untuk mendapatkan file versi digitalnya (pdf). Semoga buku ini bermanfaat.

LINKS:

Buku We are the landscape: http://www.recep-enelc.net/libro/LIBRO1/libroLand.php

About RECEP-ENELC: http://www.recep-enelc.net/contprincipali.php?id=20&lang=en&type=sing&nome_mn=About%20us

Refleksi: profesi Arsitek Lanskap

Definisi

Bukanlah hal yang mudah untuk menjawab secara singkat jika seseorang (awam) bertanya tentang ‘apakah arsitektur lanskap’ atau ‘apa yang dikerjakan oleh arsitek lanskap’. International Federation of Landscape Architects (IFLA) sebagai lembaga internasional yang menaungi arsitek lanskap, menjabarkan profesi ini sebagai berikut:

Landscape Architects conduct research and advice on planning, design, and stewardship of the outdoor environment and spaces, both within and beyond the built environment and spaces, and its conservation and sustainability of development. For the profession of landscape architect, a degree in landscape architecture is required.

Dalam Dasar-dasar Arsitektur Lanskap (Dept. ARL IPB), penjelasan tentang arsitektur lanskap yaitu:

Bidang ilmu (science) dan seni (art) yang mempelajari pengaturan ruang dan massa di alam terbuka, dengan mengkombinasikan elemen-elemen lanskap alami ataupun buatan manusia, baik secara horisontal maupun vertikal, dengan segenap kegiatannya, agar tercipta karya lingkungan yang secara fungsional berguna dan secara estetika indah, efektif, serasi, seimbang, teratur dan tertib, sehingga tercapai kepuasan rohani dan jasmaniah manusia dan mahluk hidup di dalamnya.

Dan kemudian profesi arsitek lanskap didefinisikan sebagai:

Insan profesional yang mendapat pendidikan akademik di perguruan tinggi dalam bidang ilmu dan seni arsitektur lanskap dan aktif dalam kegiatan peranangan, perencanaan dan pengelolaan lanskap.

Sehingga secara garis besar bidang kegiatan ini meliputi perencanaan, perancangan, dan pengelolaan lanskap.

Sementara itu, the Landscape Institute (asosiasi arsitek lanskap di Britania Raya) mendefinisikan arsitektur lanskap sebagaimana berikut:

Landscape architecture embracing all aspects of the science, planning, design, implementation and management of landscapes and their environment in urban and rural areas. It includes assessing, conserving, developing, creating and managing landscapes of all types and scales with the aim of ensuring that they are sustainable, aesthetically pleasing, functional, ecologically healthy and, where relevant, able to accommodate the built environment (LI, 2012).

Lebih lanjut, lembaga ini menjabarkan cakupan area kegiatannya yang meliputi perancangan, manajemen, perencanaan, dan keilmuan lanskap, serta disain perkotaan (urban design).

Improver and Place Maker

BooksTentunya tidak mudah untuk mengingat berbagai definisi yang cukup panjang tersebut, apalagi untuk mudah dicerna bagi awam. Bahkan Thompson (2014) berpendapat pendefinisian bidang arsitektur lanskap oleh berbagai pihak hingga saat ini dapat dikatakan belum dapat menggambarkan profesi ini secara jelas, mengingat dalam prakteknya, arsitektur lanskap memiliki area cakupan yang luas dan beragam (sebagai gambaran dapat dilihat di website Prospect). Kata kunci yang menurut Thompson tepat untuk mewakili profesi ini adalah ‘improvement and place making’. Frase ini bersumber dari Lancelot Brown (arsitek lanskap asal Inggris yang berjaya di pertengahan abad 18), yang lebih memilih untuk disebut sebagai improver and place maker daripada sebagai landscape gardener –profesi yang dikenal pada jaman itu dan kemudian menjadi cikal-bakal arsitek lanskap di akhir abad ke-19.

Untuk memperkuat argumentasinya, Thompson (2014) mengemukakan empat studi kasus, yaitu:

  1. Gardens by the Bay (Singapura),yang meskipun digambarkan sebagai taman hortikultura ala Disney yang monumental, namun konsep desainnya dianggap peka terhadap isu lingkungan dan merupakan contoh keberhasilan satu tim kolaborasi antar disiplin ilmu yang terdiri dari arsitek lanskap, arsitek, environmental design consultants, structural engineers, visitor centre designers, dan communication specialist.
  2. Hirddywel Wind Farm landscape and visual assessment (Wales-Britania Raya),yang merupakan proyek penyusunan rencana lanskap strategis untuk meminimalisasi dampak visual dari pembangunan ladang turbin angin di kawasan rural di Powys, Wales, yang bertujuan agar karakter lanskap pedesaan area tersebut terjaga, dimana proses analisa dilakukan dengan simulasi visualisasi dan modelling dengan komputer.
  3. Les Boules Roses (Montreal-Canada),yang desainnya menggunakan pendekatan artistik untuk menciptakan promenade sepanjang 1,1 km dengan kanopi bola pink dalam beberapa ukuran pada festival Aires Libres; dimana meskipun desainnya terlihat ‘playful’ namun konsepnya mempertimbangkan kondisi fisik tapak, konteks kegiatan, dan kebutuhan pengguna (users), sehingga hasilnya tidak hanya fun tapi juga fungsional.
  4. West Philadelphia Landscape Project (Pennsylvania-USA), yang mengintegrasikan penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat dalam suatu proyek community engagement dengan pendekatan lingkungan pada suatu kawasan miskin di perkotaan; proyek ini berjangka panjang (dimulai sejak tahun 1987 hingga sekarang).

Dari keempat contoh tersebut terlihat betapa beragam cakupan pekerjaan arsitek lanskap, baik dari segi pendekatan, proses, dan outputnya. Namun demikian pada dasarnya keempat kasus tersebut mengandung aspek ‘improvement and place making’.

Tantangan

StudentsSeiring dengan perubahan zaman, tantangan yang dihadapai oleh arsitek lanskap semakin kompleks, yang melibatkan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi. Meski dalam upaya ‘improvement and place making’ unsur estetika menjadi salah satu perhatian arsitek lanskap, pemahaman arsitek lanskap terhadap istilah “estetika” semestinya tak sekedar menyangkut aspek visual atau obyek semata. Namun sudah saatnya pemahamannya lebih mengarah pada estetika lingkungan, yang menempatkan lanskap sebagai suatu unit dengan berbagai komponen fisik (alami-buatan) dan manusia (budaya) yang saling berinteraksi; estetika lingkungan tercipta manakala terjadi keseimbangan dan keberlanjutan lanskap. Oleh karena itulah, dalam skala tertentu, seorang arsitek lanskap tidak dapat bekerja sendiri melainkan bekerja sama dengan disiplin lain yang terkait. Selain itu, sudah seharusnya seorang arsitek lanskap tidak hanya berpikir tentang bagaimana hasil rancangannya akan merubah tapak. Namun lebih jauh lagi, bagaimana impact atau konsekuensi dari rancangannya terhadap lingkungan fisik di luar tapak, serta terhadap masyarakat, baik para pengguna tapak (users) maupun bukan, di masa kini maupun di masa mendatang. Lalu bagaimana dengan tantangan arsitek lanskap Indonesia? Selain kedua hal tersebut, tantangan lain yang dihadapi yaitu belum terlalu dikenalnya (dan diakuinya) profesi ini di tanah air. Hal ini mengakibatkan subyek atau area yang semestinya mendapat perhatian atau potensial untuk mendapat sentuhan improvement and place making terabaikan, atau ditangani oleh profesi lain yang memiliki perbedaan persepsi tentang lanskap sehingga mempengaruhi output. Namun kita boleh optimis rekognisi terhadap profesi ini akan semakin meningkat, dengan semakin bertambahnya lapangan kerja dan kebutuhan terhadap bidang ini selama satu dekade terakhir. Semoga.

Referensi:

Dept. Arsitektur Lanskap IPB. Materi Kuliah Dasar-dasar Arsitektur Lanskap.

Thompson, IH., 2012. Landscape Architecture: a very short introduction. Oxford Univ. Press, UK.

Sumber online:

IFLA News No 48, p 8. http://www.wirz.de/pdf/iflaprof.pdf

Landscape Institute (LI), 2012. Landscape architecture: Elements and areas of practice. http://landscapeinstitute.org/PDF/Contribute/A4_Elements_and_areas_of_practice_education

Links:

Prospects. http://www.prospects.ac.uk/landscape_architect_job_description.htm

Hirddywel Wind Farm landscape and visual assessment  http://bealandscapearchitect.com/work/tasks-and-projects/hirddywel-wind-farm/

Les Boules Roses http://www.claudecormier.com/en/projet/pink-balls/

West Philadelphia Landscape Project http://www.wplp.net/

Gardens by the Bay http://www.grant-associates.uk.com/projects/gardens-by-the-bay/

 

 

 

 

Partisipasi publik untuk keberlanjutan lanskap

Poster CHeriScape

Poster title: Saving the landscape as hritage: a joint responsibility

Awal bulan Juli lalu saya mengikuti konferensi pertama CHeriScape: Cultural Heritage in Landscape, sebuah jaringan antar negara-negara Eropa dengan lima negara inti yaitu: Belgia, Belanda, Inggris Raya, Norwegia dan Spanyol. Jaringan ini mencoba untuk mengungkap hubungan antara lanskap dan heritage dari berbagai sudut pandang. Inisiatif ini untuk mendukung upaya Council of Europe, melalui European Landscape Convention, dalam menjaga keberagaman lanskap di daratan Eropa.  Dalam agendanya, konferensi CHeriScape akan diselenggarakan lima kali di kelima negara tersebut. Untuk informasi lengkap tentang jaringan ini dapat dilihat di http://www.cheriscape.ugent.be/)

Konferensi pertama, yang diadakan di Ghent-Belgia pada 1-2 Juli 2014, bertemakan “Landscape as Heritage in Policy”. Bersama dua rekan dari Universitas Groningen (Bernadette Lee-arkeolog dan Catherine Lee- sejarahwan lanskap), kami mempresentasikan poster “Saving the landscape as heritage: a joint responsibility”. Isi posternya merupakan hasil studi kasus dari 3 program pelestarian lanskap yang dengan penggagas yang berbeda, yaitu dari (1) komunitas yang dimotori sekelompok orang yang bertujuan menjaga nilai sejarah lingkungan tempat tinggal (kasus Aduard-Belanda) yang kemudian mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah setempat dan akhirnya didukung pula oleh Uni-Eropa; (2) akademisi (arkeolog) dengan melibatkan komunitas untuk mendukung upaya inventarisasi/penelusuran benda arkelologis pada suatu kawasan (kasus Carnfield University-UK); dan (3) pemerintah yang bekerja sama dengan akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk menggali sejarah lanskap setempat dan mengaplikasikannya untuk pengembangan lanskap di masa mendatang serta program-program komunitas lainnya dengan pendekatan partisipasi publik sehingga tercipta sense of community pada lanskap tersebut (kasus Drentsche Aa-Belanda).

Dari ketiga kasus tersebut, terlihat bahwa masyarakat, sebagai agen perubahan dalam lanskap, potensial untuk dilibatkan dalam upaya menjaga keberlanjutan lanskap. Bahkan masyarakat semakin merasa memiliki ikatan yang kuat dengan lanskap (place attachment) setelah mereka mengetahui lebih mendalam tentang sejarah lanskap dimana mereka tinggal sehingga rasa memiliki terhadap lanskap dimana ia tinggal meningkat (sense of belonging). Untuk itu, direkomendasikan agar pemerintah membuat kebijakan dimana pengetahuan tentang lanskap, baik yang bersifat umum maupun lokal, perlu diintegrasikan kedalam beberapa mata pelajaran di tingkat pendidikan dasar (SD-SMA) yang relevan, seperti misalnya geografi dan sejarah. Dengan demikian diharapkan masyarakat memahami bahwa lanskap merupakan sebuah material yang diwariskan (dengan berbagai nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap tsb). Sehingga diharapkan masyarakat menyadari bahwa bukan hanya pemerintah yang bertanggungjawab menjaga lanskap, namun juga masyarakat pun berperan untuk melestarikannya.

Melihat kenyataan bahwa di negara-negara Barat (Eropa) yang sudah lebih maju dalam pemahaman dan program terkait lanskap memiliki perhatian yang tinggi terhadap lanskap yang dipandang sebagai suatu warisan budaya (heritage), maka perlu kita cermati keberlanjutan lanskap di negara kita. Indonesia yang kaya akan berbagai jenis lanskap, baik yang masih alami maupun produk budaya (tradisional)   masyarakat setempat,saat ini mengalami transformasi yang sangat cepat. Hendak dibawa kemana lanskap kita? Apakah akan meng-copy kota Jakarta (yang selama ini menjadi trendsetter daerah lain) atau kota-kota di negara barat lainnya? Ataukah kita (atau lebih tepatnya masyarakat setempat) akan menggali dan melestarikan karakter lanskap lokal yang dipadu dengan intervensi budaya kontemporer sehingga lanskap mereka punya identitas dan unik?

Asal mula kata “lanskap”

Terschillingen

Rumah tua pada suatu lanskap di Pulau Terschillingen, North Sea-NL

Dalam sejarah, kata lanskap mulanya berasal dari Jerman (atau kawasan Eropa utara yang pada masa itu serumpun bahasanya dengan Jerman) yaitu landschaft, sebuah istilah dalam geografi yang berkembang di kawasan tersebut. Saya sendiri belum memperoleh sumber yang menginformasikan secara pasti periode munculnya istilah ini; hanya dinyatakan bahwa kata ini sudah ada sejak abad pertengahan di Eropa (abad ke-5 hingga ke-15).

Landschaft secara harfiah memiliki arti sebidang lahan yang terbatas. Namun jika dikaji secara historis dan dalam konteks geografis, makna landschaft tidak sekedar sebidang lahan atau suatu wilayah (teritorial). Dalam satu kata ini terkandung makna penting yang menjelaskan konstruksi identitas personal, politis, dan tempat. Secara etimologi, kata landschaft terdiri dari kata land+schaft. Schaft merupakan kata kerja (schaffen) yang bermakna menciptakan atau membentuk. Dalam kata landschaft ini maka terdapat makna penciptaan atau pembentukan suatu wilayah/teritori (land). Pembentukan wilayah tersebut  tidak hanya dalam konteks fisik, namun yang terpenting adalah adanya komponen aturan atau hukum adat (misalnya pembayaran pajak atas lahan, hak pengelolaan lahan dan sumber daya, dsb), dimana aturan atau hukum pada awalnya tidak secara tertulis atau merupakan tradisi lisan yang kemudian di akhir abad pertengahan baru dicatat sebagai sebuah hukum lanskap (landscape law); lembaga yang membawahi aturan tersebut; serta masyarakat atau komunitas yang membuat dan menerapkan aturan tersebut. Sehingga istilah landschaft dinyatakan memiliki tiga dimensi yaitu:

  1. Suatu area/kawasan yang memiliki batas yang jelas dengan seluruh komponen fisik yang ada di dalam batas tersebut;
  2. Masyarakat yang menghuni kawasan tersebut;
  3. Aturan lokal, hukum adat dan lembaga yang dimiliki oleh masyarakat dan diterapkan dalam kawasan tersebut.

Adanya ketiga komponen tersebut kemudian menjadi identitas pada suatu wilayah. Dalam sejarah perkembangannya, istilah landschaft mengalami perubahan secara konseptual. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi pada masa-masa sesudah abad pertengahan di berbagai negara-negara Eropa (jaman rennaisance hingga revolusi industri). Sesudah paruh waktu abad ke-20, lanskap telah menjadi perhatian dari multi disiplin ilmu selain bidang geografi, seperti sejarah, arkeologi, ekologi, ilmu sosial, dsb, yang kemudian memunculkan studi lanskap yang bersifat interdisipliner dan transdisipliner, misalnya lanskap arkeologis, ekologi lanskap, sejarah lanskap, dsb.

Referensi

Olwig, K.R., 1996. Recovering the Substantive Nature of Landscape. Annals of the Association of American Geographers, 86(4), pp 630-653

Spek, T., 2014. Landscape concepts 2. Outline kuliah Introduction to Landscape History. University of Groningen-Netherlands